Sabtu, 31 Mei 2014

Agni 03 Diky 14 Teks Negosiasi

Agnindya Puri   /03
Diky Renaldi K.  /14


Program Pembangunan Laboratorium Batik

            Para pengusaha batik di Kota Salatiga sedang menghadapi keluhan dari para pelanggan yang mengeluhkan tentang kualitas batik yang jelek. Menanggapi itu, Ketua Paguyuban Pengusaha Batik Seluruh Indonesia cabang Salatiga, berinisiatif untuk melakukan kerjasama dengan pemerintah. Dia mengusulkan program kepada pemerintah untuk membuatkan laboratorium batik. Dia membuat janji kepada seorang perwakilan pemerintah untuk bertemu di suatu tempat. Pemerintah pun menyetujui hal tersebut. Pemerintah menugaskan Kepala Seksi Kebudayaan dan Pariwisata yang membidangi hal tersebut.

Keesokan harinya, mereka bertemu di ruang tunggu kantor pemerintah.

(1)     Pengusaha Batik    : "Selamat siang, Pak."
(2)     Wakil Pemerintah  : "Selamat siang. Mari silakan duduk."
(3)     Pengusaha Batik    : "Baik, Pak."
(4)  Wakil Pemerintah : "Jadi, langsung saja, Anda jelaskan bagaimana proyek laboratorium batik      yang Anda usulkan."
(5)    Pengusaha Batik   : "Baik, begini Pak. Saya, perwakilan dari Paguyuban Pengusaha Batik          Seluruh Indonesia cabang Salatiga, menampung aspirasi dari para pelanggan yang mengeluhkan    tentang kualitas produk batik di daerah ini yang kurang baik."
(6)     Wakil Pemerintah  : "Mengapa bisa begitu?"
(7)     Pengusaha Batik : "Kami belum tahu mengapa kualitas batik Kota Salatiga lebih rendah dari        produk batik di daerah lain. Maka dari itu, kami menginginkan untuk dibangunkan gedung        laboratorium batik."
(8)        Wakil Pemerintah  : "Oh, begitu. Tujuan yang lain?"
(9)        Pengusaha Batik    : "Tidak ada, Pak. Ya hanya itu."
(10)  Wakil Pemerintah  : "Kalau hanya itu tujuannya, gedung ini tidak bisa direalisasikan."
(11)  Pengusaha Batik    : "Mengapa bisa begitu, Pak?"
(12)  Wakil Pemerintah  : "Ya memang begitu aturannya. Untuk membangun sebuah gedung di kota      ini, paling tidak harus menyiapkan tiga tujuan yang mendasarinya."
(13)  Pengusaha Batik  : "Oh, begitu. Tujuan yang kedua adalah untuk melestarikan budaya asli kota      ini, Pak. Disana kita juga akan mendirikan museum untuk menaruh hasil karya para perajin di        Kota Salatiga, Pak."
(14)  Wakil Pemerintah  : "Ya, baik. Itu cukup menarik. Tujuan yang selanjutnya?"
(15)  Pengusaha Batik   : "Laboratorium ini juga bisa dijadikan tempat wisata, Pak. Kami akan desain   bangunan itu semenarik mungkin untuk menarik perhatian penduduk sekitar atau bahkan turis        asing, Pak. Hal itu akan menambah pendapatan kota ini juga kan, Pak?"
(16)  Wakil Pemerintah : "Ya, itu benar. Mendengar tujuan pembangunan ini tadi, saya kira                    pembangunan ini akan mendapat persetujuan dari Pemda dan DPRD."
(17)  Pengusaha Batik    : "Terima kasih, Pak."
(18)  Wakil Pemerintah  : "Ya. Secepatnya, kami akan merealisasikan program ini."
(19)  Pengusaha Batik     : "Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih ya, atas kerja samanya."
(20)  Wakil Pemerintah : "Ya sama-sama. Memang sudah menjadi tanggung jawab kami untuk              membahagiakan masyarakat sekitar."
(21)  Pengusaha Batik     : "Hehehe, iya, Pak. Boleh saya keluar?"
(22)  Wakil Pemerintah  : "Iya, silakan."
(23)  Pengusaha batik     : "Terima kasih, Pak. Selamat siang."
(24)  Wakil Pemerintah  : "Ya, selamat siang."

              Pemerintah yang diwakilkan oleh Kepala Seksi Kebudayaan dan Pariwisata ini akhirnya     menyetujui usulan program tersebut. Dalam waktu dekat, Kota Salatiga akan mempunyai     Laboratorium Batik, yang sekaligus menjadi Museum Batik Salatiga. 



Teks Negosiasi “Laboratorium Batik”

Terdapat sebuah perusahaan batik yang sangat tersohor di sebuah negara. Perusahan itu dikelola oleh pengusaha, sebut saja Mahmud. Dia seorang pengusaha yang mempunyai intelektual tinggi. Dari hasil pengamatannya, sekarang batik-batik yang beredar di pasaran memiliki kualitas yang sangat rendah. Lalu, dia ingin mendirikan sebuah laboratorium batik yang dikelola oleh pemerintah. Dia pun mengirim wakilnya untuk menemui pemerintah daerah yang mengurusi bidang kesenian.
WPB: “Selamat siang, Pak”
WPK: “Selamat siang, silakan duduk”
WPB: “Ya, Pak. Terima kasih”
WPK: “Maaf sebelumnya. Anda siapa?”
WPB: “Saya Ahmad, wakil dari perusahaan batik.”
WPK: “Lalu, ada urusan apa? Sampai Bapak datang ke sini.”
WPB: “Begini, Pak. Perusahaan kami melihat bahwa pada masa sekarang, batik yang beredar di  pasaran memiliki kualitas yang rendah. “
WPK: “Lalu?”
WPB: “Karena hal itu, kami ingin mendirikan proyek.”
WPK: “Apa proyeknya?”
WPB: “Proyek itu sebuah laboratorium batik.”
WPK: “Lalu, apakah perusahaan Anda telah merincikan dana untuk  proyek itu dan berapakah dana yang harus dikeluarkan?”
WPB: “Ya, kami telah menyusun rincian dana untuk proyek itu. Dana itu berkisar 1,2 miliar rupiah. Kami memohon agar pemerintah juga ikut andil dalam mendanai  proyek itu  sebesar lima ratus juta rupiah.”
Kedua orang itu berdiam sejenak...
WPB: “Bagaimana, Pak?”
WPK: “Sebelum Saya menerima, Saya mau tanya.”
WPB: “Silakan, Pak.”
WPK: “Apa keuntungan dari proyek itu, jika telah jadi?”
WPB: “Keuntungan dari proyek itu cukup banyak, Pak. Yang pertama proyek itu atau laboratorium itu bisa digunakan untuk meneliti batik yang ada di pasaran, jadi kita bisa mengembalikan atau menolak barang yang mempunyai kualitas yang sangat rendah dan masyarakat negara ini tidak tertipu oleh barang itu.”
WPK: “Lalu apa lagi?”
WPB: “Yang kedua laboratorium itu bisa untuk tempat wisata, yang dapat dikunjungi baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Jadi, jika banyak wisatawan mancanegara, negara kita mendapat devisa yang lumayan. Menurut Bapak bagaimana?”
WPK: “Lalu apa saja, yang terdapat di dalam laboratorium itu?”
WPB: “Seperti yang Saya katakan tadi, di laboratorium itu terdapat bangunan untuk meneliti batik, tempat untuk menjual batik, dimana batik itu bisa digunakan sebagai oleh-oleh, ada  juga museum yang menyimpan batik-batik yang legendaris.”
WPK: “Apakah laboratorium itu bisa digunakan oleh pihak asing?”
WPB: “Ya bisa. Tetapi harus memakai surat perjanjian atau surat pernyataan.”
WPK: “Baiklah kalau begitu,... Saya akan mengusulkan kepada pemerintah pusat sebesar empat ratus juta.”
WPB: “Naikkan lagi, Pak. Proyek ini juga bermanfaat bagi negara kita.”
WPK: “Baiklah,.. Nanti Saya usulkan antara 450 juta sampai 500 juta.”
WPB: “Ya, Pak,.. Terima kasih. Semoga dana yang Bapak usulkan bisa diterima dan bermanfaat.”
Akhirnya mereka berjabat tangan. Wakil perusahaan pun kembali ke perusahaannya.

**WPB= Wakil Perusahaan Batik
**WPK= Wakil Pemerintah Urusan Kesenian

Disusun oleh :
1.       Afriska Yusuf W (MIA 4.2/ 02)
2.       Arga Cahya P      (MIA 4.2/ 07)­­

Arifatul Mu'amalah / 08
Dhea Novitasari / 11

Usulan Koperasi
Tanggal 21 Mei 2013, sehari setelah diadakannya pertemuan anggota OSIS SMAN Taruna, Adi selaku ketua OSIS SMAN Taruna dan Ahmad selaku wakil ketua OSIS SMAN Taruna menemui kepala sekolah untuk mengajukan proposal usulan progam sekolah.
Adi                         : "Selamat siang, Pak." (Sambil bersalaman)
Kepala sekolah       : "Selamat siang. Ada keperluan apa kalian kesini ?"
Ahmad                   : "Begini, Pak. Setelah kami adakan pertemuan anggota OSIS, kami selaku perwakilan OSIS SMAN Taruna ingin menyampaikan usulan dari teman-teman."
Kepala sekolah       : "Ya, usulan apa Nak ?"
Adi                         : "Teman-teman mengusulkan agar SMAN Taruna memiliki koperasi yang dikelola sendiri oleh siswa. Ini proposal dari usulan kami, Pak." (Menyerahkan proposal)
Kepala sekolah       : "Mengapa kalian ingin mendirikan koperasi? Bukankah di sekolah sudah ada kantin?" (Sambil membaca proposal)
Ahmad                   : "Kalau kantin di sekolah hanya menyediakan makanan dan minuman saja, tidak menyediakan perlengkapan alat tulis. Jika kita membutuhkan alat tulis, kita harus keluar dulu untuk membelinya, dan menurut kami itu tidak efektif, Pak."
Adi                         : "Iya, Pak. Koperasi itu nanti akan menyediakan berbagai keperluan siswa. Mulai dari perlengkapan sekolah, alat-alat tulis, sampai makanan dan minuman."
Kepala sekolah       : "Begini, Nak. Untuk mendirikan sebuah koperasi perlu biaya yang tidak sedikit, butuh biaya yang banyak."
Ahmad                   : "Benar, Pak. Tetapi jika kita memiliki koperasi sekolah sendiri, apalagi yang mengelola siswa itu akan membantu siswa dalam memenuhi kebutuhan sekolah dan akan mengasah kemampuan siswa dalam berorganisasi dan berwirausaha."
Kepala sekolah       : "Ya, kalian memang benar. Saya sepemikiran dengan kalian. Tetapi, tadi sudah saya katakan, biaya yang diperlukan tidak sedikit dan sekolah tidak memiliki dana yang cukup."
Adi                         : "Apa sekolah tidak mendapatkan dana BOS ?"
Kepala sekolah       : “Ya pastinya dapat, tetapi uang itu bukan untuk koperasi, Nak. Dana BOS digunakan untuk membiayai siswa yang tidak mampu. Sebenarnya di sekolah kita ada uang kas, tetapi hanya sedikit, tidak cukup untuk mendirikan kopersi.”
Ahmad                   : “ Kalau begitu, kami akan mencari dana tambahan.”
Kepala sekolah       : “Dari mana?”
Ahmad                   : “ Kami akan melakukan gali dana.”
Adi                         : “ Benar, Pak. Kami akan berjualan keliling sekolah untuk gali dana. Keuntungan dari berjualan nanti untuk tambahan biaya mendirikan koperasi.”
Kepala sekolah       : “Baiklah, saya setuju kalau begitu. Kalian boleh gali dana, mencari dana tambahan untuk mendirikan koperasi. Saya beri waktu 2 bulan untuk gali dana. Nanti sekolah akan memberikan dana juga. Silahkan kalian berdua merancang berapa dana yang kita perlukan. Nanti dari kalian setengah, dari sekolah setengah.”
Ahmad                   : “Baik, Pak. Terima kasih atas ijinnya.”
Adi                         : “Untuk rancangan harganya, kami akan segera membuat proposal dan memberikannya pada Bapak.”
Kepala sekolah       : “Ya, segeralah membuat proposal agar permintaan kalian juga segera terealisasikan.”
Ahmad                   : “Baik, Pak. Terima kasih sekali lagi.”
Adi                         : “Mari, Pak.”
Kepala sekolah       : “Ya, sama-sama.”
                   Kepala SMAN Taruna telah menyetuji usulan dari perwakilan OSIS SMAN Taruna. Dan pihak sekolah akan memberikan dana untuk mendirikan kopersi, tetapi dana yang diberikan hanya setengah dari dana yang dibutuhkan dan setengah  dana yang diperlukan akan dicari sendiri oleh siswa dengan cara gali dana.
Nurlita Dhuha Fatmawati / 20
Syifa Khairunnisa / 27

Penurunan Harga Sewa Kios

                Para pedagang di suatu pasar merasa keberatan dengan harga sewa  kios di pasar tersebut karena kebutuhan sehari hari mereka meningkat dan juga pengunjung pasar sedikit demi sedikit berkurang karena menjamurnya pasar modern atau supermarket di daerah sekitar pasar. Mereka berencana mengusulkan penurunan harga sewa kios dengan diwakili oleh ketua paguyuban pedagang.

Ketua paguyuban pedagang    : ‘’Selamat siang, Pak.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Selamat siang. Silahkan duduk.
Ketua paguyuban pedagang    : “Terima kasih, Pak.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Ada keperluan apa Anda datang kemari?”
Ketua paguyuban pedagang    : “Sebelumnya perkenalkan, nama saya Syifa Khairunnisa ketua paguyuban pedagang di pasar ini. Saya mewakili rekan rekan saya untuk mengajukan permintaan penurunan harga sewa kios, Pak.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Memangnya kenapa?”
Ketua paguyuban pedagang    : “Begini, Pak. Menurut kami harga Rp 1.500.000,00 per bulan terlalu mahal.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Bukankah dari dulu harga sewa Rp 1.500.000,00 per bulan tidak pernah dipermasalahkan?
Ketua paguyuban pedagang    : “Kebutuhan kami meningkat sedangkan harga bahan pokok juga meningkat, ditambah lagi pengunjung di pasar ini mulai menurun karena menjamurnya supermarket disekitar sini. Paling tidak, tolong harga sewa diturunkan hingga 25%, Pak.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Itu tidak mungkin. Pihak pasar juga membutuhkan banyak biaya untuk pengelolaan pasar. Belum lagi pasar ini akan direnovasi, tentu saja itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Tolong lah, Pak dipertimbangkan lagi.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Harga sewa diturunkan hingga 25% itu tidak mungkin, saya mungkin bisa mengusulkan penurunan harga sewa hingga 10%."
Ketua paguyuban pedagang    : “Mohon diturunkan lagi, Pak. Omzet mingguan kami rata rata hanya Rp 500.000,00. Masih terlalu berat untuk kami membayar harga sewa per bulan."
Pimpinan pengelola pasar        : “Bagaimana jika 15%?”
Ketua paguyuban pedagang    : “Baiklah, tapi tolong usahakan lebih, Pak.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Ya, akan saya usahakan.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Baiklah, nanti akan saya sampaikan kepada rekan –rekan saya. Boleh saya keluar, Pak?”
Pimpinan pengelola pasar        : “Ya, silahkan.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Terima kasih atas waktunya, Pak. Selamat siang.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Selamat siang.”

                Pimpinan pengelola pasar dan ketua paguyuban pedagang akhirnya sepakat untuk menurunkan harga sewa kios hingga 15%. Ketua paguyuban pedagang pun kembali ke pasar untuk memberi tahu para pedagang yang lain dan melanjutkan pekerjaannya.



Abi Hidayat MIA 4.2/01
Muhammad Ogan I.I. MIA 4.2/18

Renovasi Pasar

Dalam rangka mengahadapi Bulan Ramadhan dan Lebaran tahun 2014, pihak pengelola pasar ingin memperbaiki pasar sekaligus sarana dan prasarana dikarenakan kondisi pasar yang kumuh dan sudah tidak layak pakai. Hal ini dimaksudkan agar pedagang dan pembeli merasa nyaman dalam melakukan transaksi jual beli. Kemudian, pengelola pasar melakukan pembicaraan dengan ketua paguyuban pedagang untuk membicarakan rencana pemindahan pedagang sementara guna memperlancar proses perbaikan. Terjadi perbedaan pendapat waktu pemindahan dan lokasi sementara para pedagang.

Ketua paguyuban pedagang    : ‘’Selamat siang.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Selamat siang.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Ada yang bisa Saya bantu, Pak?”
Pimpinan pengelola pasar        : “BeginiPak, dalam rangka menyambut Bulan Ramadhan tahun ini. Pemerintah berniat memperbaiki pasar kita ini.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Kapan perbaikan dimulai, Pak?”
Pimpinan pengelola pasar        : “Secepatnya Pak, menunggu proses pemindahan pedagang dulu, Pak.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Kapan mulai pemindahan pedagang?”
Pimpinan pengelola pasar        : “Bagaimana kalau minggu depan?”
Ketua paguyuban pedagang    : “Apakah bisa diberi waktu lagi, Pak?”
Pimpinan pengelola pasar        : “Kira-kira butuh berapa lama untuk memindahkan dagangan kalian?”
Ketua paguyuban pedagang    : “Ya kira-kira butuh dua minggu.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Apakah tidak bisa lebih cepat lagi?”
Ketua paguyuban pedagang    : “Kami butuh banyak waktu, Pak. Karena dagangan kami banyak-banyak.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Bagaimana kalau 10 hari. Kami juga butuh banyak waktu untuk memperbaiki pasar kalian.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Baiklah, nanti akan saya sampaikan kepada teman-teman Saya.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Oke.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Lantas dimanakah tempat sementara kami berdagang?”
Pimpinan pengelola pasar        : “Di lapangan samping simpang enam.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Saya tidak yakin apakah disana strategis.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Nanti akan saya sosialisasikan dengan masyarakat setempat, supaya mereka mengetahui keberadaan pasar sementara.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Baiklah. Saya bersama teman –teman akan mendukung proyek ini.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Baguslah. Sebaiknya kalian harus segera bergegas. Jika tidak, Kami akan menggusur pasar secara paksa.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Siap, Pak.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Terima kasih atas waktu Anda. Selamat siang.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Siang.”

                Akhirnya pimpinan pengelola pasar dan ketua paguyuban pedagang pun sepakat menetapkan waktu dan lokasi pemindahan sementara pasar yang akan direnovasi. Kemudian mereka kembali ke pekerjaan masing-masing.