Selasa, 17 Desember 2013

Teks Eksposisi


Sistem Pembelajaran Kurikulum 2013

Untuk kesekian kalinya , kritik kembali menghantam kurikulum baru atau yang lebih dikenal dengan kurikulum 2013 .  Terutama dalam hal materi pembelajaran , konteks dalam buku , dan kapasitas guru yang rendah dalam menyusun kurikulum .

Menurut beberapa siswa, banyak diantara mereka yang mengeluhkan tentang carut marutnya sistem kurikulum 2013 . Diantaranya adalah kesulitan penyesuaian siswa dengan materi baru dikarenakan buku yang menjadi pegangan siswa tidaklah lengkap .

Diantara sekian banyak kompenen mata pelajaran kurikulum 2013 hanya terdapat buku panduan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia , Matematika , dan Sejarah . Sedangkan untuk buku mata pelajaran lainnya belumlah tersedia .  

Buku yang telah tersedia itu juga tidak terhindar dari kritik . Buku Bahasa Indonesia misalnya banyak sekali konten yang tidak sesuai atau tidak sejalan dengan pemikiran guru.

Juga banyak guru yang juga mengeluhkan kurikulum baru ini . Kurangnya pelatihan atau seminar menjadi salah satu alasan kenapa guru sulit menerapkan kurikulum ini dalam kegiatan belajar mengajar . Hal itu mengakibatkan para murid yang bingung dengan materi yang mereka terima .

"Selama ini banyak guru kesusahan mengubah kebiasaan dari menerima isi kurikulum apa adanya lalu tiba-tiba diminta menyusun KTSP. Apalagi di kurikulum 2013 prinsipnya integrasi, banyak materi," ujar salah seorang anggota Dewan Pendidikan DIY, Profesor Buchori .  

Selain itu , banyaknya materi yang harus diterima siswa membuat jam pelajaran menjadi lama dan para siswa pulang dalam waktu sore . Tentunya hal itu mengakibatkan para siswa kelelahan terutama bagi siswa yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah , dan mengurangi kemampuan siswa dalam menyerap materi pelajaran .

Salah satu contoh adalah diterapkannya kurikulum 2013 dalam bidang Bahasa Indonesia. Keterangan dari Mahsun (2013) mengatakan bahwa semua pelajaran bahasa Indonesia mulai jenjang sekolah dasar (SD) sampai dengan sekolah menengah atas (SMA) berbasis teks. Dengan berbasis teks, siswa menggunakan bahasa tidak saja hanya dijadikan sebagai sarana komunikasi, tetapi sebagai sarana mengembangkan kemampuan berpikir.

Hal itu sudah terlihat dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang sudah para siswa lalui selama satu semester  . Para siswa membutuhkan kemampuan berpikir lebih ketika pembelajaran dibanding dengan sistem kurikulum sebelumnya . Juga , dalam kurikulum baru ini lebih banyak ditekankan pada aspek budi pekerti , hal itu juga dirasakan para siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia . Banyak sekali komponen dalam teks buku Bahasa Indonesia untuk kurikulum 2013 yang mengajarkan mengenai nilai nilai budi pekerti .

Selain itu , kami juga dituntut lebih aktif dalam pembelajaran .Hal itu dibuktikan dengan lebih seringnya guru bertanya kepada para siswa , sehingga siswa mampu berpikir kreatif dan tidak hanya menerima penjelasan dari guru . Hal itu membuat para siswa mudah mengingat mengenai materi yang disampaikan .

Tidak hanya Bahasa Indonesia , penerapan kurikulum baru juga berlaku di seluruh mata pelajaran .Khususnya pada mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia , dan Sejarah . Diantara sekian banyak mata pelajaran itulah , penerapan kurikulum baru yang sudah sangat sesuai dan tepat sasaran pada bidang Bahasa Indonesia .

Walaupun sudah cukup bagus , kurikulum 2013 harus terus berbenah . Banyak sekali komponen dalam sistem belajar mengajar yang harus diperbaiki dan dibenahi, terutama pada hal materi pembelajaran , konteks buku , dan tenaga pengajar .




MIA 4.1 / 005
Alda Oktaviani Miftah Putri 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar