Teks
Negosiasi Antara Pengusaha Batik 1 dan Pengusaha Batik 2
Suatu
sore di rumah Bapak Armawan sedang diadakan pertemuan. Pertemuan tersebut
dihadiri oleh para pengusaha batik di sekitar Solo. Dalam pertemuan tersebut
membahas mengenai pendirian laboratorium batik. Saat itu Bapak Armawan dan
temannya melakukan perbincangan mengenai pendirian laboratorium batik tersebut.
Pengusaha Batik 1 : "Selamat sore Pak, bagaimana
dengan rencana pendirian laboratorium
batik di daerah Klewer?"
Pengusaha Batik 2 : "Selamat sore
Bapak Armawan, saya sudah membicarakan rencana ini dengan pengusaha lainnya.
Para pengusaha setuju dan akan menanamkan modal untuk rencana kita ini. Tapi
kita perlu membicarakannya kepada pemerintah kota."
Pengusaha Batik 1 : "Berapa orang yang
akan menanamkan modal dalam rencana kita membuat laboratorium batik, Pak?"
Pengusah Batik 2 : ''Untuk sementara ini
ada sekitar lima orang dari perusahaaan yang berbeda."
Pengusaha Batik 1 : "Berarti ditambah
kita menjadi tujuh orang. Lantas berapa persen masing-masing dari kita harus
menanam modal?"
Pengusaha Batik 2 : "Bagaimana kalau
kita berdua menanamkan modal masing-masing 25% dan untuk yang lainnya
masing-masing 10%?"
Pengusaha Batik 1 : "Saya rasa itu
kurang adil. Walaupun itu recana kita tapi yang memakai semua perusahaan yang
ikut berpartisipasi. Seharusnya 100% itu kita bagi bertuju supaya adil."
Pengusaha Batik 2 : "Mereka hanya
menanamkan modal namun kepemilikan laboratorium itu tetap atas nama kita
berdua. Jadi jika disama ratakan tidak adil."
Pengusaha Batik 1 : "Apakah kita tidak medapatkan dana
bantuan dari pemerintah?"
Pengusaha Batik laboratorium itukan ide
kita."
Pengusaha Batik 1 : " Tapi itukan
menmbantu pemerintah dalam mengurangi jumlah pengangguran di kota ini."
Pengusaha Batik 2 : "Tetap saja itu
tidak ada di aggaran pemerintah."
Pengusaha Batik 1 : "Bagaimana kalau
kita mengajukan proposal kepada pemerintah. Seumpama mendapatkan dana itu bisa
membantu kita dalam pembangunan."
Pengusaha Batik 2 : "Jika untuk
mencoba saja aku setuju. Namun jika tidak mendapatkan bantuan kita harus tetap
menjalankan rencana ini."
Pengusaha Batik 1 : "Baiklah, aku juga
setuju. Kapan kita akan menemui pemerintah kota?"
Pengusaha Batik 2 : "Bagaimana kalau
besok?"
Pengusaha Batik 1 : "Baik lah. Sampai
bertemu besok."
Keesokan harinya, mereka bertemu dan
berangkat menuju balai kota untuk mengajukan proposal dan memohon bantuan.
Pengusaha Batik : " Selamat pagi Pak.
Bisa minta waktunya sebentar?"
Wakil Pemerintahan : "Selamat pagi.
Mari, silahkan duduk."
Pengusaha Batik : "Terima kasih
Pak."
Wakil Pemerintahan : "Ada yang bisa
saya bantu?"
Pengusaha Batik 2 : "Jadi kami datang
kesini bermaksud mengajukan permohonan bantuan dana untuk rencana pendirian
laboratorium batik di daerah Klewer."
Wakil Pemerintahan : "Apakah Anda
sudah membawa proposalnya?"
Pengusaha Batik 1 : "Sudah Pak, ini
proposalnya."
Wakil Pemerintahan : " sebentar saya
baca dulu proposanya."
Beberapa saat setelah wakil pemerintahan
membaca proposalnya.
Wakil Pemerintahan : "Saya sudah
membacanya. Tujuan pendirian laboratorium batik ini sangat bagus, tapi apakah
dananya tidak bisa lebih ditekan ?"
Pengusa Batik 2 : "Tidak bisa Pak.
Kami telah membuat anggaran dengan mempertimbangkan kualitas barang
bangunan."
Wakil Perusahaan : "Baiklah saya akan
mempertimbangkan proposal ini. Untuk persetujuannya akan saya kabari melalui
via telepon."
Pengusaha Batik 1 : "Saya tunggu kabar
baik dari bapak. Terima kasih atas waktunya. Selamat pagi."
Wakil Perusahaan : "Selamat
Pagi."
Raudhatul Munawaroh ( MIA 4.2 / 23 )
Retyan Shinta P. ( MIA 4.2 / 24 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar