Maela Risky 18
Rahma Khusnul 21
Pendirian Laboraturium Batik
Pada masa kini kesadaran generasi muda Indonesia akan
pentingnya budaya sangatlah kurang. Sebagai contohnya, pandangan anak muda
terhadap batik. Mereka menganggap batik adalah hal yang kuno dan tidak keren.
Padahal batik merupakan salah satu warisan budaya yang perlu dijaga dan
dilestarikan.
Namun, tidak semua pemuda Indonesia berpikiran begitu.
Andani, seorang Pengusaha Batik Muda A, asal kota Majalengka ini sadar akan
pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya batik Indonesia. Dia
memiliki ide untuk membentuk Laboraturium Batik bersama pengusaha batik lain di
seluruh Indonesia.
Dia lalu mempersiapkan semuanya, termasuk mendata para
pengusaha batik di seluruh Indonesia. Setelah menghubungi para pengusaha ternyata
hanya tujuh pengusaha saja yang berpartisipasi mendukung proyeknya tersebut.
Dan pada hari ini, dia mengumpulkan semua pengusaha batik yang tertarik pada
proyek ini.
Andani : "Selamat siang Bapak dan Ibu, silakan duduk.
Sebelumnya terima kasih telah bersedia datang kemari untuk membahas tentang
pembuatan Laboraturium Batik ini."
Tok tok tok..
Pengusaha B : "Maaf bu, saya terlambat. Boleh saya masuk?"
Andani : "Oh iya tak apa, silakan duduk. Tujuan saya
mengumpulkan anda semua disini untuk menerangkan kepada anda tentang
Laboraturium Batik yang rencananya akan dibangun sebagai fasilitas bersama guna
menunjang kualitas dan menjaga kelestarian akan budaya batik di Indonesia. Dan
semoga dapat lebih mengenalkan batik kepada dunia.”
Andani : “Dalam rencananya, Laboraturium Batik ini akan
dibangun di Jakarta Pusat yang merupakan pusat ibu kota Indonesia. Apakah Bapak
dan Ibu setuju dengan usulan kami?”
Pengusaha C : “Saya setuju dengan lokasi pembangunannya, karna menurut saya
Jakarta Pusat merupakan tempat yang cukup strategis.”
Pengusaha E : “Tapi apakah pajak yang harus dibayarkan tidak besar?”
Andani : “Soal itu kita bisa membicarakannya dengan pemerintah
daerah. Saya mengajukan proyek ini sebagai fasilitas umum karena ini merupakan
milik kita semua dan aset negara.”
Pengusaha G : “Lalu, bagaimana jika pemerintah tidak menyetujuinya?”
Pengusaha D : “Ini adalah salah satu cara untuk melestarikan budaya bangsa,
jadi mana mungkin mereka tidak menyetujuinya?”
Andani : “Itu benar, lagipula kita melakukan ini dengan biaya
yang akan kita kumpulkan bersama tiap bulannya.”
Pengusaha B : “O iya soal itu, berapa iuran tiap bulannya, Bu?”
Pengusaha F : “Jika proyek ini cukup besar, kita harus mengeluarkan uang
yang cukup banyak juga ya, Bu?”
Andani : “Proyek ini mungkin kedengaran cukup besar dan mahal.
Namun sebenarnya ini proyek yang murah dan cukup menguntungkan. Ini dikarenakan
produk dari Laboraturium Batik akan dijual di kota – kota besar di Indosesia
dan juga kita akan mencoba menjualnya di manca negara. Oleh sebab itu uang yang
dikeluarkan tiap bulan dikembalikan lagi kepada anda selama satu tahun sekali
dan ditambahkan dengan laba yang diperoleh.”
Pengusaha H : “Karena kita semua bukan merupakan pemilik perusahaan yang
cukup besar, bagaimana jika iurannya Rp.1.000.000,00 per bulannya?”
Pengusaha G : “Jika hanya satu juta, tiap bulannya kita hanya mendapat
delapan juta saja. Apa ini akan cukup untuk biaya semuanya?”
Pengusaha D : “Bagaimana jika RP.2.000.000,00?”
Pengusaha E : “Dua juta itu terlalu banyak apalagi untuk perusahaan kami.”
Andani : “Tidak perlu khawatir, proyek ini hanya memerlukan
dana sekitar 20 juta rupiah perbulannya. Namun setiap pengusaha hanya perlu
mengeluarkan Rp.1.500.000,00 per bulan dan sisanya saya akan mencoba untuk
mencari sponsor dan bantuan dari pemerintah daerah.”
Pengusaha C : “Itu ide yang bagus. Lalu, kapan rencananya proyek ini akan
dimulai?”
Andani : “Jika dimungkinkan kita akan memulai proyek ini bulan
depan. Dan besok rencananya saya akan mengajukan proposal kepada pemerintah
daerah. Saya mengajak dua dari anda semua untuk menjadi wakil bagi proyek ini.
Apakah ada yang berkenan?”
Pengusaha B : “Besok jam berapa, Bu?”
Andani : “Sekitar jam sepuluh pagi.”
Pangusaha B : “Saya bisa, Bu.”
Pengusaha C : “Saya juga bisa, Bu.”
Andani : “Baiklah besok, saya tunggu anda di depan kantor ini
jam delapan.”
Pengusaha B, C : “Baiklah, Bu.”
Andani : “Dengan begini saya akhiri diskusi hari ini dan hasil
besok akan saya informasikan kepada Bapak dan Ibu dalam pertemuan selanjutnya.
Terima kasih atas perhatiannya. Sampai berjumpa dipertemuan selanjutnya.”
Keesokan harinya tepat pukul 08.00 mereka sudah siap
untuk berangkat ke Jakarta Pusat. Sesampainya disana Mereka langsung menuju ke
Gedung Pemerintah Daerah. Sesuai janji mereka kepada Kepala Pemda merekapun
bertemu tepat pukul 10.00 WIB di ruang pertemuan.
Andani : “Selamat pagi, Pak.”
Kepala pemda : “Selamat pagi, silakan duduk.”
Andani : “Kami bertiga datang kemari dengan tujuan untuk
mengajukan permohonan ijin dari bapak untuk pembangunan Laboratorium Batik di
Jakarta Pusat. Kemarin saya sudah mendiskusikannya bersama pengusaha-pengusaha
batik yang lain dan rencananya kami akan memulai proyeknya bulan depan.”
Kepala Pemda : “Itu ide yang sangat bagus. Lantas apa yang harus saya lakukan
untuk membantu?”
Pengusaha B : “Kami memerlukan bantuan dari bapak untuk menyetujui proyek
ini dan menjadikannya sebagai fasilitas umum. Karena kami mengalami kendala
dalam hal pajak bangunannya.”
Kepala Pemda : “Apakah proyek ini sudah direncanakan dengan baik?”
Pengusaha C : “Sudah pak, seperti yang dikatakan Ibu Andani tadi kami sudah
membicarakannya dengan beberapa perusahaan lain dan sudah disetujui.”
Andani : “Kami mohon agar sebisa mungkin kami tidak perlu
membayar pajak, dikarenakan perusahaan yang bergabung didalamnya bukanlah
perusahaan besar. Pengeluaran produksi nanti kemungkinan juga besar, maka kami
meminta kepada bapak.”
Kepala Pemda : “Sebenarnya, apa tujuan dari pembentukan laboraturium ini?”
Andani : “Tujuan dari laboraturium ini adalah untuk
meningkatkan mutu dan kreasi akan kain batik Nusantara. Sehingga batik menjadi
lebih menarik dan peminatnya semakin banyak.”
Kepala Pemda : “Apa benar proyek ini sudah direalisasikan dengan baik?”
Andani : “Iya, Pak. Kami benar-benar sudah merealisasikannya
dengan baik. Bahkan anggaran pengeluaran setiap bulannya pun sudah kami
perhitungkan.”
Kepala Pemda : “Sebenarnya saya sedikit ragu. Saya khawatir apabila di tengah
pembangunan proyek ini, tiba-tiba saja ada kendala yang membuat proyek ini
dibatalkan. Nama saya juga akan ikut tercemar akan hal itu.”
Andani : “Kami sudah yakin akan proyek ini, Pak. Kami sudah
bertekad untuk segera menuntaskan proyek ini. Proyek ini nantinya akan menjadi
yang pertama di Indonesia. Jadi kami harap bapak bersedia membantu kami. Dengan
begitu kendala akan dapat diatasi bersama.”
Pengusaha B : “Sebenarnya banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari proyek
ini. Salah satunya yaitu akan membuat batik di Indonesia menjadi lebih diminati
dan menjadikannya sebagai budaya yang akan selalu dijaga.”
Kepala Pemda : “Apakah hanya masalah pajak yang menjadi kendala saat ini?”
Pengusaha C : “Iya, Pak. Untuk saat ini memang itu yang menjadi kendala bagi
kami. Oleh sebab itu, bantuan dari bapak sangat kami perlukan.”
Kepala Pemda : “Baiklah. Usulan laboratorium batik ini memang merupakan ide
yang sangat kreatif. Saya akan segera mengurusnya. Kira-kira dua hari lagi saya
beri surat pemberitahuan. Serta untuk masalah pembangunannya, mungkin saya juga
akan bisa membantu.”
Andani : “Terimakasih, Pak. Bapak sangatlah berjasa akan
proyek ini.”
Kepala Pemda : “Anda tak perlu berterimakasih. Ini sudah merupakan kewajiban
saya.”
Esoknya Andani mulai mengumpulkan dana dari para
pengusaha lain dan mecari beberapa sponsor untuk memulai proyeknya. Seminggu
kemudian dana telah terkumpul dan proyek sudah bisa dimulai.
Proyekpun berjalan lancar, dan benar saja kreasi batik
baru mulai muncul di pasaran. Peminatnyapun makin banyak hingga mancanegara.
Dan kaum muda sekarang tak malu lagi untuk bergaya dengan menggunakan warisan
budaya Indonesia yaitu batik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar