Minggu, 01 Juni 2014

"Pendirian Laboraturium Batik" Maela Risky 18 Rahma Khusnul 21

Maela Risky 18
Rahma Khusnul 21
 Pendirian Laboraturium Batik

Pada masa kini kesadaran generasi muda Indonesia akan pentingnya budaya sangatlah kurang. Sebagai contohnya, pandangan anak muda terhadap batik. Mereka menganggap batik adalah hal yang kuno dan tidak keren. Padahal batik merupakan salah satu warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Namun, tidak semua pemuda Indonesia berpikiran begitu. Andani, seorang Pengusaha Batik Muda A, asal kota Majalengka ini sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya batik Indonesia. Dia memiliki ide untuk membentuk Laboraturium Batik bersama pengusaha batik lain di seluruh Indonesia.
Dia lalu mempersiapkan semuanya, termasuk mendata para pengusaha batik di seluruh Indonesia. Setelah menghubungi para pengusaha ternyata hanya tujuh pengusaha saja yang berpartisipasi mendukung proyeknya tersebut. Dan pada hari ini, dia mengumpulkan semua pengusaha batik yang tertarik pada proyek ini.

Andani              : "Selamat siang Bapak dan Ibu, silakan duduk. Sebelumnya terima kasih telah bersedia datang kemari untuk membahas tentang pembuatan Laboraturium Batik ini."
Tok tok tok..
Pengusaha B     : "Maaf bu, saya terlambat. Boleh saya masuk?"
Andani              : "Oh iya tak apa, silakan duduk. Tujuan saya mengumpulkan anda semua disini untuk menerangkan kepada anda tentang Laboraturium Batik yang rencananya akan dibangun sebagai fasilitas bersama guna menunjang kualitas dan menjaga kelestarian akan budaya batik di Indonesia. Dan semoga dapat lebih mengenalkan batik kepada dunia.”
Andani              : “Dalam rencananya, Laboraturium Batik ini akan dibangun di Jakarta Pusat yang merupakan pusat ibu kota Indonesia. Apakah Bapak dan Ibu setuju dengan usulan kami?”
Pengusaha C     : “Saya setuju dengan lokasi pembangunannya, karna menurut saya Jakarta Pusat merupakan tempat yang cukup strategis.”
Pengusaha E      : “Tapi apakah pajak yang harus dibayarkan tidak besar?”
Andani              : “Soal itu kita bisa membicarakannya dengan pemerintah daerah. Saya mengajukan proyek ini sebagai fasilitas umum karena ini merupakan milik kita semua dan aset negara.”
Pengusaha G     : “Lalu, bagaimana jika pemerintah tidak menyetujuinya?”
Pengusaha D     : “Ini adalah salah satu cara untuk melestarikan budaya bangsa, jadi mana mungkin mereka tidak menyetujuinya?”
Andani              : “Itu benar, lagipula kita melakukan ini dengan biaya yang akan kita kumpulkan bersama tiap bulannya.”
Pengusaha B     : “O iya soal itu, berapa iuran tiap bulannya, Bu?”
Pengusaha F      : “Jika proyek ini cukup besar, kita harus mengeluarkan uang yang cukup banyak juga ya, Bu?”
Andani              : “Proyek ini mungkin kedengaran cukup besar dan mahal. Namun sebenarnya ini proyek yang murah dan cukup menguntungkan. Ini dikarenakan produk dari Laboraturium Batik akan dijual di kota – kota besar di Indosesia dan juga kita akan mencoba menjualnya di manca negara. Oleh sebab itu uang yang dikeluarkan tiap bulan dikembalikan lagi kepada anda selama satu tahun sekali dan ditambahkan dengan laba yang diperoleh.”
Pengusaha H     : “Karena kita semua bukan merupakan pemilik perusahaan yang cukup besar, bagaimana jika iurannya Rp.1.000.000,00 per bulannya?”
Pengusaha G     : “Jika hanya satu juta, tiap bulannya kita hanya mendapat delapan juta saja. Apa ini akan cukup untuk biaya semuanya?”
Pengusaha D     : “Bagaimana jika RP.2.000.000,00?”
Pengusaha E      : “Dua juta itu terlalu banyak apalagi untuk perusahaan kami.”
Andani              : “Tidak perlu khawatir, proyek ini hanya memerlukan dana sekitar 20 juta rupiah perbulannya. Namun setiap pengusaha hanya perlu mengeluarkan Rp.1.500.000,00 per bulan dan sisanya saya akan mencoba untuk mencari sponsor dan bantuan dari pemerintah daerah.”
Pengusaha C     : “Itu ide yang bagus. Lalu, kapan rencananya proyek ini akan dimulai?”
Andani              : “Jika dimungkinkan kita akan memulai proyek ini bulan depan. Dan besok rencananya saya akan mengajukan proposal kepada pemerintah daerah. Saya mengajak dua dari anda semua untuk menjadi wakil bagi proyek ini. Apakah ada yang berkenan?”
Pengusaha B     : “Besok jam berapa, Bu?”
Andani              : “Sekitar jam sepuluh pagi.”
Pangusaha B     : “Saya bisa, Bu.”
Pengusaha C     : “Saya juga bisa, Bu.”
Andani              : “Baiklah besok, saya tunggu anda di depan kantor ini jam delapan.”
Pengusaha B, C : “Baiklah, Bu.”
Andani              : “Dengan begini saya akhiri diskusi hari ini dan hasil besok akan saya informasikan kepada Bapak dan Ibu dalam pertemuan selanjutnya. Terima kasih atas perhatiannya. Sampai berjumpa dipertemuan selanjutnya.”

Keesokan harinya tepat pukul 08.00 mereka sudah siap untuk berangkat ke Jakarta Pusat. Sesampainya disana Mereka langsung menuju ke Gedung Pemerintah Daerah. Sesuai janji mereka kepada Kepala Pemda merekapun bertemu tepat pukul 10.00 WIB di ruang pertemuan.

Andani              : “Selamat pagi, Pak.”
Kepala pemda   : “Selamat pagi, silakan duduk.”
Andani              : “Kami bertiga datang kemari dengan tujuan untuk mengajukan permohonan ijin dari bapak untuk pembangunan Laboratorium Batik di Jakarta Pusat. Kemarin saya sudah mendiskusikannya bersama pengusaha-pengusaha batik yang lain dan rencananya kami akan memulai proyeknya bulan depan.”
Kepala Pemda   : “Itu ide yang sangat bagus. Lantas apa yang harus saya lakukan untuk membantu?”
Pengusaha B     : “Kami memerlukan bantuan dari bapak untuk menyetujui proyek ini dan menjadikannya sebagai fasilitas umum. Karena kami mengalami kendala dalam hal pajak bangunannya.”
Kepala Pemda   : “Apakah proyek ini sudah direncanakan dengan baik?”
Pengusaha C     : “Sudah pak, seperti yang dikatakan Ibu Andani tadi kami sudah membicarakannya dengan beberapa perusahaan lain dan sudah disetujui.”
Andani              : “Kami mohon agar sebisa mungkin kami tidak perlu membayar pajak, dikarenakan perusahaan yang bergabung didalamnya bukanlah perusahaan besar. Pengeluaran produksi nanti kemungkinan juga besar, maka kami meminta kepada bapak.”
Kepala Pemda   : “Sebenarnya, apa tujuan dari pembentukan laboraturium ini?”
Andani              : “Tujuan dari laboraturium ini adalah untuk meningkatkan mutu dan kreasi akan kain batik Nusantara. Sehingga batik menjadi lebih menarik dan peminatnya semakin banyak.”
Kepala Pemda   : “Apa benar proyek ini sudah direalisasikan dengan baik?”
Andani              : “Iya, Pak. Kami benar-benar sudah merealisasikannya dengan baik. Bahkan anggaran pengeluaran setiap bulannya pun sudah kami perhitungkan.”
Kepala Pemda   : “Sebenarnya saya sedikit ragu. Saya khawatir apabila di tengah pembangunan proyek ini, tiba-tiba saja ada kendala yang membuat proyek ini dibatalkan. Nama saya juga akan ikut tercemar akan hal itu.”
Andani              : “Kami sudah yakin akan proyek ini, Pak. Kami sudah bertekad untuk segera menuntaskan proyek ini. Proyek ini nantinya akan menjadi yang pertama di Indonesia. Jadi kami harap bapak bersedia membantu kami. Dengan begitu kendala akan dapat diatasi bersama.”
Pengusaha B     : “Sebenarnya banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari proyek ini. Salah satunya yaitu akan membuat batik di Indonesia menjadi lebih diminati dan menjadikannya sebagai budaya yang akan selalu dijaga.”
Kepala Pemda   : “Apakah hanya masalah pajak yang menjadi kendala saat ini?”
Pengusaha C     : “Iya, Pak. Untuk saat ini memang itu yang menjadi kendala bagi kami. Oleh sebab itu, bantuan dari bapak sangat kami perlukan.”
Kepala Pemda   : “Baiklah. Usulan laboratorium batik ini memang merupakan ide yang sangat kreatif. Saya akan segera mengurusnya. Kira-kira dua hari lagi saya beri surat pemberitahuan. Serta untuk masalah pembangunannya, mungkin saya juga akan bisa membantu.”
Andani              : “Terimakasih, Pak. Bapak sangatlah berjasa akan proyek ini.”
Kepala Pemda   : “Anda tak perlu berterimakasih. Ini sudah merupakan kewajiban saya.”

Esoknya Andani mulai mengumpulkan dana dari para pengusaha lain dan mecari beberapa sponsor untuk memulai proyeknya. Seminggu kemudian dana telah terkumpul dan proyek sudah bisa dimulai.
Proyekpun berjalan lancar, dan benar saja kreasi batik baru mulai muncul di pasaran. Peminatnyapun makin banyak hingga mancanegara. Dan kaum muda sekarang tak malu lagi untuk bergaya dengan menggunakan warisan budaya Indonesia yaitu batik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar