Agnindya
Puri /03
Diky
Renaldi K. /14
Program Pembangunan Laboratorium Batik
Para
pengusaha batik di Kota Salatiga sedang menghadapi keluhan dari para pelanggan
yang mengeluhkan tentang kualitas batik yang jelek. Menanggapi itu, Ketua
Paguyuban Pengusaha Batik Seluruh Indonesia cabang Salatiga, berinisiatif untuk
melakukan kerjasama dengan pemerintah. Dia mengusulkan program kepada
pemerintah untuk membuatkan laboratorium batik. Dia membuat janji kepada seorang
perwakilan pemerintah untuk bertemu di suatu tempat. Pemerintah pun menyetujui
hal tersebut. Pemerintah menugaskan Kepala Seksi Kebudayaan dan Pariwisata yang membidangi hal
tersebut.
Keesokan
harinya, mereka bertemu di ruang tunggu kantor pemerintah.
(1) Pengusaha Batik : "Selamat siang, Pak."
(2) Wakil Pemerintah : "Selamat siang. Mari silakan duduk."
(3) Pengusaha Batik : "Baik, Pak."
(4) Wakil Pemerintah : "Jadi, langsung saja, Anda jelaskan bagaimana proyek laboratorium batik yang Anda usulkan."
(5) Pengusaha Batik : "Baik, begini Pak. Saya, perwakilan dari Paguyuban Pengusaha Batik Seluruh Indonesia cabang Salatiga, menampung aspirasi dari para pelanggan yang mengeluhkan tentang
kualitas produk batik di daerah ini yang kurang baik."
(6) Wakil Pemerintah : "Mengapa bisa begitu?"
(7) Pengusaha Batik : "Kami belum tahu mengapa kualitas batik Kota Salatiga lebih rendah
dari produk batik di daerah lain. Maka dari itu, kami menginginkan untuk dibangunkan gedung laboratorium
batik."
(8) Wakil Pemerintah : "Oh, begitu. Tujuan yang lain?"
(9) Pengusaha Batik : "Tidak ada, Pak. Ya hanya itu."
(10) Wakil Pemerintah : "Kalau hanya itu tujuannya, gedung ini tidak
bisa direalisasikan."
(11) Pengusaha Batik : "Mengapa bisa begitu, Pak?"
(12) Wakil Pemerintah : "Ya memang begitu aturannya. Untuk membangun
sebuah gedung di kota ini, paling tidak harus
menyiapkan tiga tujuan yang mendasarinya."
(13) Pengusaha Batik : "Oh, begitu. Tujuan yang kedua adalah
untuk melestarikan budaya asli kota ini, Pak. Disana kita juga
akan mendirikan museum untuk menaruh hasil karya para perajin
di Kota Salatiga, Pak."
(14) Wakil Pemerintah : "Ya, baik. Itu cukup menarik. Tujuan yang
selanjutnya?"
(15) Pengusaha Batik : "Laboratorium ini juga bisa dijadikan
tempat wisata, Pak. Kami akan
desain bangunan itu semenarik mungkin untuk menarik perhatian penduduk sekitar atau bahkan turis asing, Pak. Hal itu akan menambah pendapatan kota ini juga kan,
Pak?"
(16) Wakil Pemerintah : "Ya, itu benar. Mendengar tujuan pembangunan
ini tadi, saya kira pembangunan ini akan mendapat persetujuan
dari Pemda dan DPRD."
(17) Pengusaha Batik : "Terima kasih, Pak."
(18) Wakil Pemerintah : "Ya. Secepatnya, kami akan merealisasikan
program ini."
(19) Pengusaha Batik : "Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih ya,
atas kerja samanya."
(20) Wakil Pemerintah : "Ya sama-sama. Memang sudah menjadi tanggung
jawab kami untuk membahagiakan masyarakat sekitar."
(21) Pengusaha Batik : "Hehehe, iya, Pak. Boleh saya keluar?"
(22) Wakil Pemerintah : "Iya, silakan."
(23) Pengusaha batik : "Terima kasih, Pak. Selamat siang."
(24) Wakil Pemerintah : "Ya, selamat siang."
Pemerintah yang diwakilkan oleh Kepala Seksi Kebudayaan dan Pariwisata ini akhirnya menyetujui usulan program tersebut. Dalam waktu dekat, Kota Salatiga akan mempunyai Laboratorium Batik, yang sekaligus menjadi Museum Batik Salatiga.