Teks Negosiasi “Laboratorium Batik”
Terdapat
sebuah perusahaan batik yang sangat tersohor di sebuah negara. Perusahan itu dikelola
oleh pengusaha, sebut saja Mahmud. Dia seorang pengusaha yang mempunyai intelektual
tinggi. Dari hasil pengamatannya, sekarang batik-batik yang beredar di pasaran
memiliki kualitas yang sangat rendah. Lalu, dia ingin mendirikan sebuah
laboratorium batik yang dikelola oleh pemerintah. Dia pun mengirim wakilnya
untuk menemui pemerintah daerah yang mengurusi bidang kesenian.
WPB: “Selamat
siang, Pak”
WPK: “Selamat
siang, silakan duduk”
WPB: “Ya, Pak. Terima
kasih”
WPK: “Maaf sebelumnya. Anda
siapa?”
WPB: “Saya Ahmad, wakil dari
perusahaan batik.”
WPK: “Lalu, ada urusan apa?
Sampai Bapak datang ke sini.”
WPB: “Begini, Pak. Perusahaan
kami melihat bahwa pada masa sekarang, batik yang beredar di pasaran memiliki kualitas yang rendah. “
WPK: “Lalu?”
WPB: “Karena hal itu, kami ingin
mendirikan proyek.”
WPK: “Apa proyeknya?”
WPB: “Proyek itu sebuah
laboratorium batik.”
WPK: “Lalu, apakah perusahaan Anda telah merincikan dana untuk proyek itu dan berapakah dana yang harus
dikeluarkan?”
WPB: “Ya, kami telah menyusun rincian dana untuk proyek itu. Dana itu
berkisar 1,2 miliar rupiah. Kami memohon agar pemerintah juga ikut andil dalam
mendanai proyek itu sebesar lima ratus juta rupiah.”
Kedua orang itu berdiam
sejenak...
WPB: “Bagaimana, Pak?”
WPK: “Sebelum Saya menerima, Saya
mau tanya.”
WPB: “Silakan, Pak.”
WPK: “Apa keuntungan dari proyek
itu, jika telah jadi?”
WPB: “Keuntungan dari proyek itu cukup banyak, Pak.
Yang pertama proyek itu atau laboratorium itu bisa digunakan untuk meneliti
batik yang ada di pasaran, jadi kita bisa mengembalikan atau menolak barang
yang mempunyai kualitas yang sangat rendah dan masyarakat negara ini tidak
tertipu oleh barang itu.”
WPK: “Lalu apa lagi?”
WPB: “Yang kedua laboratorium itu bisa untuk tempat wisata, yang dapat
dikunjungi baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Jadi, jika
banyak wisatawan mancanegara, negara kita mendapat devisa yang lumayan. Menurut
Bapak bagaimana?”
WPK: “Lalu apa saja, yang
terdapat di dalam laboratorium itu?”
WPB: “Seperti yang Saya katakan tadi, di laboratorium itu terdapat
bangunan untuk meneliti batik, tempat untuk menjual batik, dimana batik itu
bisa digunakan sebagai oleh-oleh, ada
juga museum yang menyimpan batik-batik yang legendaris.”
WPK: “Apakah laboratorium itu
bisa digunakan oleh pihak asing?”
WPB: “Ya bisa. Tetapi harus
memakai surat perjanjian atau surat pernyataan.”
WPK: “Baiklah kalau begitu,... Saya akan mengusulkan kepada pemerintah
pusat sebesar empat ratus juta.”
WPB: “Naikkan lagi, Pak. Proyek
ini juga bermanfaat bagi negara kita.”
WPK: “Baiklah,.. Nanti Saya
usulkan antara 450 juta sampai 500 juta.”
WPB: “Ya, Pak,.. Terima kasih.
Semoga dana yang Bapak usulkan bisa diterima dan bermanfaat.”
Akhirnya
mereka berjabat tangan. Wakil perusahaan pun kembali ke perusahaannya.
**WPB=
Wakil Perusahaan Batik
**WPK= Wakil
Pemerintah Urusan Kesenian
Disusun oleh :
1. Afriska
Yusuf W (MIA 4.2/ 02)
2. Arga
Cahya P (MIA 4.2/ 07)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar