Sabtu, 31 Mei 2014



Teks Negosiasi “Laboratorium Batik”

Terdapat sebuah perusahaan batik yang sangat tersohor di sebuah negara. Perusahan itu dikelola oleh pengusaha, sebut saja Mahmud. Dia seorang pengusaha yang mempunyai intelektual tinggi. Dari hasil pengamatannya, sekarang batik-batik yang beredar di pasaran memiliki kualitas yang sangat rendah. Lalu, dia ingin mendirikan sebuah laboratorium batik yang dikelola oleh pemerintah. Dia pun mengirim wakilnya untuk menemui pemerintah daerah yang mengurusi bidang kesenian.
WPB: “Selamat siang, Pak”
WPK: “Selamat siang, silakan duduk”
WPB: “Ya, Pak. Terima kasih”
WPK: “Maaf sebelumnya. Anda siapa?”
WPB: “Saya Ahmad, wakil dari perusahaan batik.”
WPK: “Lalu, ada urusan apa? Sampai Bapak datang ke sini.”
WPB: “Begini, Pak. Perusahaan kami melihat bahwa pada masa sekarang, batik yang beredar di  pasaran memiliki kualitas yang rendah. “
WPK: “Lalu?”
WPB: “Karena hal itu, kami ingin mendirikan proyek.”
WPK: “Apa proyeknya?”
WPB: “Proyek itu sebuah laboratorium batik.”
WPK: “Lalu, apakah perusahaan Anda telah merincikan dana untuk  proyek itu dan berapakah dana yang harus dikeluarkan?”
WPB: “Ya, kami telah menyusun rincian dana untuk proyek itu. Dana itu berkisar 1,2 miliar rupiah. Kami memohon agar pemerintah juga ikut andil dalam mendanai  proyek itu  sebesar lima ratus juta rupiah.”
Kedua orang itu berdiam sejenak...
WPB: “Bagaimana, Pak?”
WPK: “Sebelum Saya menerima, Saya mau tanya.”
WPB: “Silakan, Pak.”
WPK: “Apa keuntungan dari proyek itu, jika telah jadi?”
WPB: “Keuntungan dari proyek itu cukup banyak, Pak. Yang pertama proyek itu atau laboratorium itu bisa digunakan untuk meneliti batik yang ada di pasaran, jadi kita bisa mengembalikan atau menolak barang yang mempunyai kualitas yang sangat rendah dan masyarakat negara ini tidak tertipu oleh barang itu.”
WPK: “Lalu apa lagi?”
WPB: “Yang kedua laboratorium itu bisa untuk tempat wisata, yang dapat dikunjungi baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Jadi, jika banyak wisatawan mancanegara, negara kita mendapat devisa yang lumayan. Menurut Bapak bagaimana?”
WPK: “Lalu apa saja, yang terdapat di dalam laboratorium itu?”
WPB: “Seperti yang Saya katakan tadi, di laboratorium itu terdapat bangunan untuk meneliti batik, tempat untuk menjual batik, dimana batik itu bisa digunakan sebagai oleh-oleh, ada  juga museum yang menyimpan batik-batik yang legendaris.”
WPK: “Apakah laboratorium itu bisa digunakan oleh pihak asing?”
WPB: “Ya bisa. Tetapi harus memakai surat perjanjian atau surat pernyataan.”
WPK: “Baiklah kalau begitu,... Saya akan mengusulkan kepada pemerintah pusat sebesar empat ratus juta.”
WPB: “Naikkan lagi, Pak. Proyek ini juga bermanfaat bagi negara kita.”
WPK: “Baiklah,.. Nanti Saya usulkan antara 450 juta sampai 500 juta.”
WPB: “Ya, Pak,.. Terima kasih. Semoga dana yang Bapak usulkan bisa diterima dan bermanfaat.”
Akhirnya mereka berjabat tangan. Wakil perusahaan pun kembali ke perusahaannya.

**WPB= Wakil Perusahaan Batik
**WPK= Wakil Pemerintah Urusan Kesenian

Disusun oleh :
1.       Afriska Yusuf W (MIA 4.2/ 02)
2.       Arga Cahya P      (MIA 4.2/ 07)­­

Tidak ada komentar:

Posting Komentar