Minggu, 15 Juni 2014

negosiasi

Teks Negosiasi Antara Pengusaha Batik 1 dan Pengusaha Batik 2

            Suatu sore di rumah Bapak Armawan sedang diadakan pertemuan. Pertemuan tersebut dihadiri oleh para pengusaha batik di sekitar Solo. Dalam pertemuan tersebut membahas mengenai pendirian laboratorium batik. Saat itu Bapak Armawan dan temannya melakukan perbincangan mengenai pendirian laboratorium batik tersebut.  
Pengusaha Batik 1 : "Selamat sore Pak, bagaimana dengan rencana pendirian           laboratorium batik di daerah Klewer?"
Pengusaha Batik 2 : "Selamat sore Bapak Armawan, saya sudah membicarakan rencana ini dengan pengusaha lainnya. Para pengusaha setuju dan akan menanamkan modal untuk rencana kita ini. Tapi kita perlu membicarakannya kepada pemerintah kota."
Pengusaha Batik 1 : "Berapa orang yang akan menanamkan modal dalam rencana kita membuat laboratorium batik, Pak?"
Pengusah Batik 2 : ''Untuk sementara ini ada sekitar lima orang dari perusahaaan yang berbeda."
Pengusaha Batik 1 : "Berarti ditambah kita menjadi tujuh orang. Lantas berapa persen masing-masing dari kita harus menanam modal?"
Pengusaha Batik 2 : "Bagaimana kalau kita berdua menanamkan modal masing-masing 25% dan untuk yang lainnya masing-masing 10%?"
Pengusaha Batik 1 : "Saya rasa itu kurang adil. Walaupun itu recana kita tapi yang memakai semua perusahaan yang ikut berpartisipasi. Seharusnya 100% itu kita bagi bertuju supaya adil."
Pengusaha Batik 2 : "Mereka hanya menanamkan modal namun kepemilikan laboratorium itu tetap atas nama kita berdua. Jadi jika disama ratakan tidak adil."
Pengusaha Batik  1 : "Apakah kita tidak medapatkan dana bantuan dari pemerintah?"
Pengusaha Batik laboratorium itukan ide kita."
Pengusaha Batik 1 : " Tapi itukan menmbantu pemerintah dalam mengurangi jumlah pengangguran di kota ini."
Pengusaha Batik 2 : "Tetap saja itu tidak ada di aggaran pemerintah."
Pengusaha Batik 1 : "Bagaimana kalau kita mengajukan proposal kepada pemerintah. Seumpama mendapatkan dana itu bisa membantu kita dalam pembangunan."
Pengusaha Batik 2 : "Jika untuk mencoba saja aku setuju. Namun jika tidak mendapatkan bantuan kita harus tetap menjalankan rencana ini."
Pengusaha Batik 1 : "Baiklah, aku juga setuju. Kapan kita akan menemui pemerintah kota?"
Pengusaha Batik 2 : "Bagaimana kalau besok?"
Pengusaha Batik 1 : "Baik lah. Sampai bertemu besok."
Keesokan harinya, mereka bertemu dan berangkat menuju balai kota untuk mengajukan proposal dan memohon bantuan.
Pengusaha Batik : " Selamat pagi Pak. Bisa minta waktunya sebentar?"
Wakil Pemerintahan : "Selamat pagi. Mari, silahkan duduk."
Pengusaha Batik : "Terima kasih Pak."
Wakil Pemerintahan : "Ada yang bisa saya bantu?"
Pengusaha Batik 2 : "Jadi kami datang kesini bermaksud mengajukan permohonan bantuan dana untuk rencana pendirian laboratorium batik di daerah Klewer."
Wakil Pemerintahan : "Apakah Anda sudah membawa proposalnya?"
Pengusaha Batik 1 : "Sudah Pak, ini proposalnya."
Wakil Pemerintahan : " sebentar saya baca dulu proposanya."
Beberapa saat setelah wakil pemerintahan membaca proposalnya.
Wakil Pemerintahan : "Saya sudah membacanya. Tujuan pendirian laboratorium batik ini sangat bagus, tapi apakah dananya tidak bisa lebih ditekan ?"
Pengusa Batik 2 : "Tidak bisa Pak. Kami telah membuat anggaran dengan mempertimbangkan kualitas barang bangunan."
Wakil Perusahaan : "Baiklah saya akan mempertimbangkan proposal ini. Untuk persetujuannya akan saya kabari melalui via telepon."
Pengusaha Batik 1 : "Saya tunggu kabar baik dari bapak. Terima kasih atas waktunya. Selamat pagi."
Wakil Perusahaan : "Selamat Pagi."



Raudhatul Munawaroh ( MIA 4.2 / 23 )

Retyan Shinta P. ( MIA 4.2 / 24 )

Rabu, 04 Juni 2014

Pemindahan sementara pasar

Negoisasi  162.3.1
Dibuat oleh : Dhimas Abie Toyib
Yoga Sugama    

Akibat musibah kebakaran yang menimpa pasar Suka Maju, pengelola pasar terpaksa memindahkan pasar di lapangan belakang pasar. Akan tetapi para pedagang baju mengeluhkan bau amis  akibat berdekatan dengan pedagang ikan. Akhirnya para pedagang baju berkoordinasi dengan ketua paguyuban dagang pasar dan mendatangi  kantor pengelola untuk melaporkan  komplennya, diwakili oleh ketua paguyuban pedagang, wakil diperbolehkan masuk kantor.
Ketua paguyuban pedagang : ” Selamat siang, Pak. ”
Pimpinan pasar : “ Selamat siang, silakan duduk. “
Ketua paguyuban pedagang : “ Terimakasih.”
Pimpinan pasar : “ Ada yang bisa saya bantu ? “
Ketua paguyuban pedagang : “ Ada pak, karena pemindahan pasar, ada tempat yang tidak sesuai.”
Pimpinan pasar : “ Tempat apa itu ? “
Ketua paguyuban pedagang : “ Tempat pedagang baju berdekatan dengan pedagang ikan.  ”
Pimpinan pasar : “ Lalu apa masalah yang dikeluhkan ?  “
Ketua paguyuban pedagang : “ Baunya itu lo pak, para pedagang baju takut barang dagangannya
                                                                ikut terkena amis. ”
Pimpinan pasar : “ Oh..begitu. “
Ketua paguyuban pedagang : “ Bisakah bapak memindahkan tempat pedagang kain ?  ”
Pimpinan pasar : “ Bisa, tapi semua lapangan sudah terisi penuh oleh pedagang. “
Ketua paguyuban pedagang : “ Oh...Bagaimana jika bertukaran tempat pak ? ”
Pimpinan pasar : “ Bisa juga itu, tapi dengan siapa dan dimana pedagang mau dipindah ?  “
Ketua paguyuban pedagang : “ Yang terpenting tidak dekat dengan pedagang ikan. ”
Pimpinan pasar : “ Bagaimana kalo bertukaran dengan pedagang guci ? “
Ketua paguyuban pedagang : “ Wah, itu terlalu jauh dari jalan masuk pak. ”
Pimpinan pasar : “ Bagaimana dengan pedagang souvenir ?  “
Ketua paguyuban pedagang : “ Mmm...oke pak, disitu saja. Lagian tidak terlalu jauh dari jalan masuk ”
Pimpinan pasar : “ Kalau begitu nanti saya koordinasikan dengan pedagang souvenir  untuk
                                     Bertukaran tempat.”
Ketua paguyuban pedagang : “ Kalo begitu saya mau ijin keluar mengabari para pedagang baju. ”
Pimpinan pasar : “ Silakan. “
Ketua paguyuban pedagang : “ Terimakasih pak, permisi. ”
Pimpinan pasar : “ Sama-sama. “

Akhirnya masalah terpecahkan, Ketua paguyuban pedagang mengatakan bahwa tempat mereka akan ditukar dengan pedagang souvenir. Para pedagang baju merasa senang.






Minggu, 01 Juni 2014

Ajeng Gelda/04_Alda Oktaviani/05



Renovasi Pasar dan Harga Sewa Kios

Setelah para pedagang kota mengadakan rapat, mereka meminta renovasi pasar yang tertunda selama 6 bulan segera diselesaikan. Kemudian mereka berunjuk rasa di depan kantor pengelolaan pasar kota. Akhirnya pimpinan pasar mengajak wakil para pedagang untuk bernegosiasi. Gito selaku ketua paguyuban pedagang ditunjuk menjadi wakil pedagang lainnya.

1.      KPP  : Selamat siang Pak.
2.      PP     : Selamat siang, silakan duduk.
3.      KPP  : Ya Pak terima kasih.
4.      PP     : Saya Gito, pimpinan pengelola pasar. Anda?
5.      KPP  : Perkenalkan nama saya Badrus, ketua paguyuban pedagang.
6.      PP     : Mengapa semua pedagang berdemo? Apa masalahnya?
7.      KPP  : Begini Pak saya selaku perwakilan dari teman-teman pedagang ingin menyampaikan pendapat kami. Setelah 6 bulan renovasi pasar tertunda, kami ingin itu segera diselesaikan.
8.      PP     : Lho, bukannya sudah disediakan tempat penampungan pedagang sementara?
9.      KPP  : Ya Pak, tetapi kami merasa tidak nyaman berada di tempat penampungan.
10.  PP     : Mengapa? Bukannya tempat penampungannya strategis dan memudahkan pelanggan untuk bertransaksi?
11.  KPP  : Itu benar Pak, tetapi seperti yang kita ketahui bahwa akhir-akhir ini sering hujan lebat dan itu membuat tempat penampungan menjadi memprihatinkan.
12.  PP     : Memprihatinkan bagaimana?
13.  KPP  : Misalnya, genting bocor, becek dan kayu yang mudah ambruk. Itu mengakibatkan transaksi tidak lancar dan akhirnya, pelanggan beralih ke supermall di dekat tempat penampungan.
14.  KPP  : Lagipula mengapa renovasinya ditunda?
15.  PP     : Hmm, jadi itu masalahnya. Baiklah akan saya jelaskan mengapa renovasinya ditunda. Itu tersendat karena ada penolakan dari sebagian kecil pedangang. Mereka menolak renovasi pasar karena mereka tidak setuju dengan harga sewa kios yang telah ditetapkan yaitu sebesar Rp 15.000.000,00 per tahunnya.
16.  KPP  : Maaf, bukannya mereka sudah sepakat?
17.  PP     : Itu tidak benar. Pada kenyataannya ada juga yang tidak setuju.
18.  KPP  : Jadi begitu.
19.  KPP  : Begini saja Pak, jika harganya diturunkan menjadi Rp 12.000.000,00?
20.  PP     : Tidak bisa, Pak. Ini kota besar, bagaimana mungkin bisa semurah itu?
21.  KPP  : Tolong Pak, kasihan mereka yang ekonominya masih kesulitan.
22.  KPP  : Kami akan berusaha merawat dan tidak merusak kiosnya Pak.
23.  PP     : Baiklah akan saya pertimbangkan. Kalau begitu beritahukan ini pada pedagang lainnya Pak.
24.  KPP  : Baik Pak, selamat siang.
25.  PP     : Selamat siang.

Setelah Ia keluar, Ia segera memberitahu pedagang lainnya jika renovasi pasar dan usulan penurunan harga sewa kios menjadi Rp 12.000.000,00 baru dipertimbangkan oleh pimpinan pasar.

TEKS NEGOSIASI
1. Anis Lina Jati (06)
2. Febi Kurnia D (16)
Memajukan Koperasi Siswa
Satu minggu yang lalu pengurus OSIS mengadakan rapat tentang rencana pengadaan kegiatan ekstrakurikuler yang mengurusi koperasi siswa. Hari ini,Arman selaku Ketua OSIS mengajukan proposal pengadaan kegiatan tersebut kepada Kepala Sekolah. Ia berharap Kepala Sekolah menerima proposal yang diajukannya.
Ketua OSIS          : “Selamat siang,Pak.”
Kepala Sekolah  :”Selamat siang,silakan duduk.”
Ketua OSIS          :”Terima kasih,Pak. Maaf mengganggu waktu Bapak,perkenalkan nama saya       Arman,Ketua OSIS angkatan tahun ini.”
Kepala Sekolah  :”Ada keperluan apa Nak Arman menemui saya?”
Ketua OSIS        :”Saya  ingin mengajukan proposal tentang rancangan kegiatan koperasi siswa,Pak.”
Kepala Sekolah   :”Memang ada apa dengan koperasi siswa di sekolah kita? Apakah ada masalah?”
Ketua OSIS        :”Begini Pak,saya dan pengurus OSIS lainnya berencana menjadikan koperasi siswa  tersebut beroperasi di bawah pengawasan siswa,bukan pihak karyawan sekolah. Menurut kami,akan lebih baik jika siswa yang mengurus koperasi siswa di sekolah ini.”
Kepala Sekolah  :”Apa tidak sebaiknya karyawan sekolah saja yang yang mengurusi koperasi siswa?”
Ketua OSIS       :”Menurut saya dan teman-teman,selama ini koperasi siswa kurang berkembang. Tidak ada karyawan yang menjaga koperasi siswa tersebut,bahkan koperasi siswa lebih sering ditutup.”
Kepala Sekolah  :”Lalu bagaimana rencana Nak Arman agar para siswa tertarik untuk ikut serta menjaga koperasi siswa?”
Ketua OSIS       :”Begini Pak,bagaimana jika menjadikan hal tersebut sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler ?”
Kepala Sekolah  :”Itu ide yang bagus. Apa manfaat yang dapat diperoleh siswa dari kegiatan tersebut?”
Ketua OSIS        :”Dengan kegiatan ini,selain siswa dapat belajar berorganisasi,siswa juga bisa melatih jiwa kewirausahaan mereka.”
Kepala Sekolah   :”Bagus kalau begitu,saya sangat setuju.”
Ketua OSIS        :”Terima kasih jika Bapak berkenan menyetujuinya.”
Kepala Sekolah   :”Rencana Nak Arman dan teman-teman sangat positif,tentu saya menyetujuinya. Tapi bagaimana dengan modalnya?”
Ketua OSIS          :”Untuk awalnya,kami akan menjual barang-barang yang sudah tersedia di koperasi siswa terlebih dahulu. Dengan uang hasil penjualan dan uang yang diberikan dari dana BOS untuk kegiatan ekstrakurikuler,nantinya kami akan menambah lagi barang-barang keperluan siswa lainnya untuk dijual di koperasi siswa.”
Kepala sekolah:”Saya setuju dengan rencana tersebut,Nak Arman. Lalu mulai kapan kegiatan ekstrakurikuler tersebut akan mulai beroperasi?”
Ketua OSIS          :”Setelah Bapak menyetujui rencana kami ini, secepatnya kami akan segera memulai kegiatan ekstrakurikuler tersebut,Pak.”
Kepala Sekolah :”Ya,lebih cepat lebih baik, Nak Arman. Mana proposal yang harus saya tanda tangani?”
Ketua OSIS          :”Ini,Pak.”
Kepala Sekolah kemudian menandatangani proposal tersebut.
Ketua OSIS          :”Terima kasih Pak,maaf telah mengganggu.”
Kepala Sekolah :” Sama-sama Nak Arman,semoga kegiatan ekstrakurikuler tersebut berjalan sesuai rencana dan koperasi siswa bisa terus berkembang.”
Ketua OSIS          :”Amin. Terima kasih,Pak. Mari.”
Arman segera keluar dari ruangan tersebut setelah proposal yang diajukannya ditandatangani oleh Kepala Sekolah.
Keesokan harinya, ia dan pengurus OSIS lainnya segera memulai mengoperasikan koperasi siswa. Arman berharap nantinya akan banyak siswa-siswi lain yang tertarik untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tersebut.




NEGOSIASI MENDIRIKAN KOPERASI SISWA

Koperasi untuk Siswa

Hari ini, 27 Mei 2014 Pengurus OSIS melakukan pertemuan dengan pihak sekolah untuk membahas usulan program pendirian koperasi sekolah yang dikelola oleh siswa. Hal ini bertujuan untuk menyatukan pandangan kedua belah pihak. Dialog ini berlangsung di Ruang OSIS.
(1) Pengurus OSIS                    : " Selamat siang, Pak."
(2) Pihak sekolah                     : “Selamat siang.”
(3) Pengurus OSIS                   : “Silakan duduk, Pak. “
(4) Pihak sekolah                     : “Oh ya, terimakasih .”
(5) Pengurus OSIS                   :“ Pertama-tama saya, sebagai perwakilan dari teman - teman pengurus OSIS mengucapkan terimakasih kepada Bapak yang telah meluangkan waktunya untuk menghadiri rapat yang kami adakan. Mari kita mulai rapat hari ini guna membahas usulan pendirian koperasi yang dikelola oleh siswa.”
(6) Pihak Sekolah                     : “Baiklah,”
(7) Pengurus OSIS                 : “Berdasarkan proposal yang sudah kami ajukan kemarin, kami mengharapkan persetujuan dari pihak sekolah dalam pendirian koperasi yang dikelola oleh siswa sendiri. “
(8) Pihak sekolah                  : “Ya baik. Berdasarkan pengajuan yang telah     diterima kami kurang setuju dengan usulan pendirian koperasi siswa, karena di sekolah ini sudah ada koperasi yang dikelola oleh guru.”
(9) Pengurus OSIS                : “Namun pendirian koperasi sekolah yang dikelola oleh siswa sendiri ini patut direalisasikan. Karena akan membina rasa tanggung jawab, disiplin, setia kawan dan jiwa koperasi pada siswa. “
(10) Pihak sekolah               : “Berdasarkan pengalaman dari tahun – tahun sebelumnya, ketika siswa dipercaya untuk mengelola koperasi mereka tidak menggunakan kepercayaan itu dengan baik. “
(11) Pengurus OSIS                    : “Namun untuk tahun ini berbeda,Pak. Kami sudah merancang dengan matang, baik struktur maupun agenda koperasi agar koperasi ini berjalan dengan baik.” 
(12) Pihak sekolah             : “Itu gagasan yang baik. Namun, mendirikan koperasi itu tidak mudah, kalian harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Terutama modal untuk mendirikan koperasi. Padahal, anggaran untuk koperasi di sekolah ini sudah dilimpahkan sepenuhnya untuk koperasi yang dikelola oleh guru. Jadi kami tidak bisa membantu memberi modal untuk mendirikan koperasi kalian. “
(13) Pengurus OSIS                  : “Tapi Pak, koperasi siswa ini sangat bermanfaat apalagi sebentar lagi akan ada penerimaan siswa baru. Sehingga kami juga bisa menampung siswa baru untuk ikut serta dalam pengembangan koperasi siswa ini. “
(14) Pihak sekolah                   : “Wow,ide yang bagus. Tetapi sebentar lagi kalian akan menghadapi UAS, apa itu tidak akan mengganggu belajar kalian? Mendirikan koperasi tidak semudah yang kalian bayangkan. “
(15) Pengurus OSIS              : “Tidak Pak, kami bisa profesional. Kami tetap memprioritaskan belajar kami, mendirikan koperasi ini hanya untuk melatih jiwa kewirausahaan dan melaksanakan asas koperasi seperti yang telah kami dapat disaat sekolah.” 
(16) Pihak sekolah             : “Namun, koperasi yang dikelola guru sudah lengkap, sehingga peluang kalian untuk menjalankannya nanti kan susah. “
 (17) Pengurus OSIS                 : “Kami nanti akan menyediakan kebutuhan para siswa sedangkan guru menyediakan kebutuhan guru agar setiap koperasi memiliki peluang masing-masing. “
(18) Pihak sekolah                    : “Baiklah. Lalu bagaimana dengan modal yang akan kalian gunakan untuk mendirikan koperasi ini? “
(19) Pengurus OSIS                    : “Apa kami bisa meminta sebagian anggaran dana koperasi kepada sekolah? “
(20) Pihak sekolah                    : “Itu sulit untuk diwujudkan karena anggaran untuk koperasi itu sangat kecil. Mungkin hanya sedikit yang dapat diberikan sekitar satu per empat dari anggaran koperasi yang ada. “
(21) Pengurus OSIS               : “Apa tidak bisa lebih pak? Kami akan benar-benar menggunaknnya untuk mendirikan koperasi, dan sisanya untuk modal berjalannya koperasi. “
(22) Pihak sekolah                : “Mungkin bisa tapi kami lihat dulu kinerja dan hasilnya dari kalian. “
(23) Pengurus OSIS              : “Baiklah Pak tapi kami meminta separuh dari anggaran dana koperasi itu, biar adil. “
(24) Pihak sekolah            : “Baiklah pihak sekolah akan mengusahakan agar dana untukmendirikan  koperasi siswa bisa keluar setengah dari anggaran koperasi sekolah. “
(25) Pengurus OSIS               : “Kami sangat berterimakasih jika hal itu bisa terealisasi. “
(26) Pihak sekolah                 : “Ya, namun ingat kalian harus profesional. “
(27) Pengurus OSIS              : “Baik pak kami akan menjalankan pesan bapak.  Saya kira pertemuan kita hari ini cukup sampai disini. Selamat siang Pak. “
(28) Pihak sekolah                    : “Selamat siang.”  
(berdiri dari duduknya, berjabat tangan dengan pengurus OSIS dan keluar dari  ruangan)

Farah 'Azizatun Nuur (15)
Saniati Nur Azizah     (26)

Teks Negosiasi




Laboratorium Batik Salatiga
 
Nama    : Aulia Rizky    MIA4.2/09
               Devi Canda L MIA 4.2/10
 

Negosiasi ini berlangsung di Kantor Pemda Salatiga dan terjadi antara Ketua Himpunan Pengusaha Batik Salatiga dengan wakil dari Pemda Salatiga.
Wakil Pengusaha Batik    : “Selamat pagi, Pak.”
Wakil Pemda                   : “ Iya, selamat pagi. Anda siapa?”
Wakil Pengusaha Batik   : “ Nama saya Slamet, Pak. Saya Ketua Himpunan Pengusaha Batik     Salatiga.”
Wakil Pemda                    : “ Apa maksud dan tujuan bapak datang kemari?”
Wakil Pengusaha Batik : “Begini Pak, kami dari Himpunan Pengusaha Batik Salatiga ingin mengajukan proposal pengajuan dana untuk mendirikan laboratorium batik di Salatiga.”
Wakil Pemda                      : “ Laboratorium batik? Bagaimana maksudnya?”
Wakil Pengusaha Batik   : “ Jadi, laboratorium itu nanti akan kita gunakan untuk menyimpan batik-batik khas Salatiga, mengombinasikan warna-warna untuk mencari inovasi baru untuk batik kita, dan bisa jadi tempat referensi bagi pecinta batik untuk mencari model-model batik kita yang terbaru.”
Wakil Pemda                 : “ Boleh saya lihat proposalnya?”
Wakil Pengusaha Batik   : “ Ini, Pak.”
Wakil Pemda                  : “ Sebentar, ya. Saya baca dulu.”
Wakil Pengusaha Batik   : “Silahkan.”
Wakil Pemda                  : “ Dananya kok besar sekali? Nantinya untuk apa saja?”
Wakil Pengusaha Batik : “ Jadi, dana ini nantinya akan digunakan untuk membangun gedung laboratorium itu sendiri. Selain itu, dana tersebut juga akan kami gunakan untuk membeli peralatan-peralatan untuk membatik.”
Wakil Pemda               : “ Apakah dana sebanyak ini tidak terlalu banyak. Bukankah Rp 1Miliyar saja sudah cukup untuk proyek itu?”
Wakil Pengusaha Batik   : “ Kalau menurut perincian kami, dana itu belum cukup karena rencananya kami akan membuat gedung laboratorium itu bergaya tradisional yang akan membutuhkan dana lebih banyak untuk pembelian kayu dan ukirannya.”
Wakil Pemda                 : “ Kenapa tidak dibangun dengan gaya modern saja? Menurut saya, hal itu akan menekan anggaran untuk pembangunannya. Selain itu, gedung yang modern juga lebih disenangi oleh anak-anak muda kita sehingga bisa menanamkan kecintaan terhadap batik sejak dini.”
Wakil Pengusaha Batik  : “ Maaf, Pak. Tapi kami telah membuat rencana lain. Eksteriornya akan tetap kami buat tradisional, tapi interiornya bergaya modern. Jadi, akan menimbulkan dua kesan, yaitu tradisional dan modern.”
Wakil Pemda                 : “ Ya, itu benar. Tapi, APBD yang kita miliki tidak hanya untuk mengurusi hal itu saja. Kami juga harus mengurusi aspek-aspek lain di Salatiga yang masih perlu pembenahan. Dan itu semua tidak membutuhkan dana yang sedikit.”
Wakil Pengusaha Batik   : “ Betul, Pak. Tapi, laboratorium ini nantinya juga akan menguntungkan pihak Pemda Salatiga juga.”
Wakil Pemda             : “ Apa saja keuntungan yang akan kami dapatkan jika laboratorium itu benar-benar didirikan?”
Wakil Pengusaha Batik     : “ Begini, Pak. Apabila laboratoium ini benar-benar terealisasi, kami akan mendapatkan uang yang dihasilkan dari penjualan tiket masuk laboratorium itu. Setiap bulannya, kami akan membayar pajak, yang nantinya dana tersebut juga akan kembali kepada pihak Pemda sendiri.”
Wakil Pemda                   : “ Iya benar. Akan tetapi, pihak pemerintah tidak dapat memberikan dana sebesar Rp 2Miliyar. Mungkin, kami hanya akan dapat memberikan dana sebesar  Rp 1Miliyar.”
Wakil Pengusaha Batik   : “ Bagamana ya, Pak? Menurut kami dana itu masih kurang. Mugkin Rp 1,5 Miliyar juga sudah cukup untuk kami. Sebelumnya pihak Himpunan Pengusaha Batik Salatiga juga sudah mengadakan bazar dan lelang batik untuk mengumpulkan dana pembangunan laboratorium itu. Akan tetapi, peran dari pemerintah juga sangat kami butuhkan dalam proyek yang tidak kecil ini.”
Wakil Pemda               : “ Baiklah. Lagipula, laboratorium itu nantinya juga akan menguntungkan kota kita. Pengenalan untuk batik khas Salatiga akan menjadi lebih mudah.”
Wakil Pengusaha Batik     : “ Terima kasih banyak, Pak”
Wakil Pemda          : “ Baik. Mungkin kami akan menghubungi pihak anda lagi untuk memberitahukan kapan dana ini akan cair.”
Wakil Pengusaha Batik        : “ Iya Pak. Selamat Pagi.”
Wakil Pemda                      : “ Selamat Pagi.”