Laboratorium Batik Salatiga
Nama :
Aulia Rizky MIA4.2/09
Devi Canda L MIA 4.2/10
Negosiasi
ini berlangsung di Kantor Pemda Salatiga dan terjadi antara Ketua Himpunan
Pengusaha Batik Salatiga dengan wakil dari Pemda Salatiga.
Wakil
Pengusaha Batik : “Selamat pagi, Pak.”
Wakil
Pemda : “ Iya,
selamat pagi. Anda siapa?”
Wakil Pengusaha Batik :
“ Nama saya Slamet, Pak. Saya Ketua Himpunan Pengusaha Batik Salatiga.”
Wakil Pemda :
“ Apa maksud dan tujuan bapak datang kemari?”
Wakil Pengusaha Batik :
“Begini Pak, kami dari Himpunan Pengusaha Batik Salatiga ingin mengajukan
proposal pengajuan dana untuk mendirikan laboratorium batik di Salatiga.”
Wakil Pemda :
“ Laboratorium batik? Bagaimana maksudnya?”
Wakil Pengusaha Batik :
“ Jadi, laboratorium itu nanti akan kita gunakan untuk menyimpan batik-batik
khas Salatiga, mengombinasikan warna-warna untuk mencari inovasi baru untuk
batik kita, dan bisa jadi tempat referensi bagi pecinta batik untuk mencari
model-model batik kita yang terbaru.”
Wakil Pemda :
“ Boleh saya lihat proposalnya?”
Wakil Pengusaha Batik :
“ Ini, Pak.”
Wakil Pemda :
“ Sebentar, ya. Saya baca dulu.”
Wakil Pengusaha Batik :
“Silahkan.”
Wakil Pemda :
“ Dananya kok besar sekali? Nantinya untuk apa saja?”
Wakil Pengusaha Batik :
“ Jadi, dana ini nantinya akan digunakan untuk membangun gedung laboratorium
itu sendiri. Selain itu, dana tersebut juga akan kami gunakan untuk membeli
peralatan-peralatan untuk membatik.”
Wakil Pemda :
“ Apakah dana sebanyak ini tidak terlalu banyak. Bukankah Rp 1Miliyar saja
sudah cukup untuk proyek itu?”
Wakil Pengusaha Batik :
“ Kalau menurut perincian kami, dana itu belum cukup karena rencananya kami
akan membuat gedung laboratorium itu bergaya tradisional yang akan membutuhkan
dana lebih banyak untuk pembelian kayu dan ukirannya.”
Wakil Pemda :
“ Kenapa tidak dibangun dengan gaya modern saja? Menurut saya, hal itu akan
menekan anggaran untuk pembangunannya. Selain itu, gedung yang modern juga
lebih disenangi oleh anak-anak muda kita sehingga bisa menanamkan kecintaan terhadap
batik sejak dini.”
Wakil Pengusaha Batik :
“ Maaf, Pak. Tapi kami telah membuat rencana lain. Eksteriornya akan tetap kami
buat tradisional, tapi interiornya bergaya modern. Jadi, akan menimbulkan dua
kesan, yaitu tradisional dan modern.”
Wakil Pemda :
“ Ya, itu benar. Tapi, APBD yang kita miliki tidak hanya untuk mengurusi hal
itu saja. Kami juga harus mengurusi aspek-aspek lain di Salatiga yang masih
perlu pembenahan. Dan itu semua tidak membutuhkan dana yang sedikit.”
Wakil Pengusaha Batik :
“ Betul, Pak. Tapi, laboratorium ini nantinya juga akan menguntungkan pihak
Pemda Salatiga juga.”
Wakil Pemda :
“ Apa saja keuntungan yang akan kami dapatkan jika laboratorium itu benar-benar
didirikan?”
Wakil Pengusaha Batik : “ Begini, Pak. Apabila laboratoium
ini benar-benar terealisasi, kami akan mendapatkan uang yang dihasilkan dari
penjualan tiket masuk laboratorium itu. Setiap bulannya, kami akan membayar
pajak, yang nantinya dana tersebut juga akan kembali kepada pihak Pemda
sendiri.”
Wakil Pemda :
“ Iya benar. Akan tetapi, pihak pemerintah tidak dapat memberikan dana sebesar
Rp 2Miliyar. Mungkin, kami hanya akan dapat memberikan dana sebesar Rp 1Miliyar.”
Wakil Pengusaha Batik :
“ Bagamana ya, Pak? Menurut kami dana itu masih kurang. Mugkin Rp 1,5 Miliyar
juga sudah cukup untuk kami. Sebelumnya pihak Himpunan Pengusaha Batik Salatiga
juga sudah mengadakan bazar dan lelang batik untuk mengumpulkan dana
pembangunan laboratorium itu. Akan tetapi, peran dari pemerintah juga sangat
kami butuhkan dalam proyek yang tidak kecil ini.”
Wakil Pemda :
“ Baiklah. Lagipula, laboratorium itu nantinya juga akan menguntungkan kota
kita. Pengenalan untuk batik khas Salatiga akan menjadi lebih mudah.”
Wakil Pengusaha Batik :
“ Terima kasih banyak, Pak”
Wakil Pemda :
“ Baik. Mungkin kami akan menghubungi pihak anda lagi untuk memberitahukan
kapan dana ini akan cair.”
Wakil Pengusaha Batik :
“ Iya Pak. Selamat Pagi.”
Wakil Pemda :
“ Selamat Pagi.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar