Minggu, 15 Juni 2014

negosiasi

Teks Negosiasi Antara Pengusaha Batik 1 dan Pengusaha Batik 2

            Suatu sore di rumah Bapak Armawan sedang diadakan pertemuan. Pertemuan tersebut dihadiri oleh para pengusaha batik di sekitar Solo. Dalam pertemuan tersebut membahas mengenai pendirian laboratorium batik. Saat itu Bapak Armawan dan temannya melakukan perbincangan mengenai pendirian laboratorium batik tersebut.  
Pengusaha Batik 1 : "Selamat sore Pak, bagaimana dengan rencana pendirian           laboratorium batik di daerah Klewer?"
Pengusaha Batik 2 : "Selamat sore Bapak Armawan, saya sudah membicarakan rencana ini dengan pengusaha lainnya. Para pengusaha setuju dan akan menanamkan modal untuk rencana kita ini. Tapi kita perlu membicarakannya kepada pemerintah kota."
Pengusaha Batik 1 : "Berapa orang yang akan menanamkan modal dalam rencana kita membuat laboratorium batik, Pak?"
Pengusah Batik 2 : ''Untuk sementara ini ada sekitar lima orang dari perusahaaan yang berbeda."
Pengusaha Batik 1 : "Berarti ditambah kita menjadi tujuh orang. Lantas berapa persen masing-masing dari kita harus menanam modal?"
Pengusaha Batik 2 : "Bagaimana kalau kita berdua menanamkan modal masing-masing 25% dan untuk yang lainnya masing-masing 10%?"
Pengusaha Batik 1 : "Saya rasa itu kurang adil. Walaupun itu recana kita tapi yang memakai semua perusahaan yang ikut berpartisipasi. Seharusnya 100% itu kita bagi bertuju supaya adil."
Pengusaha Batik 2 : "Mereka hanya menanamkan modal namun kepemilikan laboratorium itu tetap atas nama kita berdua. Jadi jika disama ratakan tidak adil."
Pengusaha Batik  1 : "Apakah kita tidak medapatkan dana bantuan dari pemerintah?"
Pengusaha Batik laboratorium itukan ide kita."
Pengusaha Batik 1 : " Tapi itukan menmbantu pemerintah dalam mengurangi jumlah pengangguran di kota ini."
Pengusaha Batik 2 : "Tetap saja itu tidak ada di aggaran pemerintah."
Pengusaha Batik 1 : "Bagaimana kalau kita mengajukan proposal kepada pemerintah. Seumpama mendapatkan dana itu bisa membantu kita dalam pembangunan."
Pengusaha Batik 2 : "Jika untuk mencoba saja aku setuju. Namun jika tidak mendapatkan bantuan kita harus tetap menjalankan rencana ini."
Pengusaha Batik 1 : "Baiklah, aku juga setuju. Kapan kita akan menemui pemerintah kota?"
Pengusaha Batik 2 : "Bagaimana kalau besok?"
Pengusaha Batik 1 : "Baik lah. Sampai bertemu besok."
Keesokan harinya, mereka bertemu dan berangkat menuju balai kota untuk mengajukan proposal dan memohon bantuan.
Pengusaha Batik : " Selamat pagi Pak. Bisa minta waktunya sebentar?"
Wakil Pemerintahan : "Selamat pagi. Mari, silahkan duduk."
Pengusaha Batik : "Terima kasih Pak."
Wakil Pemerintahan : "Ada yang bisa saya bantu?"
Pengusaha Batik 2 : "Jadi kami datang kesini bermaksud mengajukan permohonan bantuan dana untuk rencana pendirian laboratorium batik di daerah Klewer."
Wakil Pemerintahan : "Apakah Anda sudah membawa proposalnya?"
Pengusaha Batik 1 : "Sudah Pak, ini proposalnya."
Wakil Pemerintahan : " sebentar saya baca dulu proposanya."
Beberapa saat setelah wakil pemerintahan membaca proposalnya.
Wakil Pemerintahan : "Saya sudah membacanya. Tujuan pendirian laboratorium batik ini sangat bagus, tapi apakah dananya tidak bisa lebih ditekan ?"
Pengusa Batik 2 : "Tidak bisa Pak. Kami telah membuat anggaran dengan mempertimbangkan kualitas barang bangunan."
Wakil Perusahaan : "Baiklah saya akan mempertimbangkan proposal ini. Untuk persetujuannya akan saya kabari melalui via telepon."
Pengusaha Batik 1 : "Saya tunggu kabar baik dari bapak. Terima kasih atas waktunya. Selamat pagi."
Wakil Perusahaan : "Selamat Pagi."



Raudhatul Munawaroh ( MIA 4.2 / 23 )

Retyan Shinta P. ( MIA 4.2 / 24 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar