Oleh : Digna Meintari N dan Nadhira Shafa G
Pemindahan
Lahan Pasar Jintung
Di tengah hiruk pikuk kebisingan
pasar, seorang bernama Karsa sedang berkeliling pasar untuk memantau keadaan
pasar tersebut. Karsa adalah pengelola pasar di salah satu desa yang cukup luas
di Kota Jakarta. Dia menemui salah seorang pedagang yang merupakan ketua
paguyuban pedagang di pasar tersebut yang bernama Sarimin.
Karsa : “Selamat pagi.”
Sarimin : “Selamat pagi, Pak. Tidak biasanya pagi-pagi
begini sudah ada di sini.”
Karsa : “Iya Pak, saya sedang memantau keadaan pasar,
kebetulan ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada Bapak.”
Sarimin : “Kalau boleh tahu, hal penting apa yang ingin Anda
sampaikan kepada saya, Pak?”
Karsa : “Bagaimana kalau kita membicarakannya di tempat yang
lebih tertutup. Saya khawatir ada pedagang lain yang mendengar.”
Sarimin : “Apakah harus sekarang, Pak?”
Karsa : “Iya tentu, karena ini bukan hal yang bisa
ditunda-tunda lagi.”
Sarimin : “Oh, baiklah kalau begitu.”
Akhirnya mereka memutuskan untuk
membicarakan hal tersebut di Kantor Pengelola Pasar Jintung tempat Karsa
bekerja.
Sarimin : “Jadi Pak, apa yang perlu saya ketahui?”
Karsa : “Begini Pak, Pasar Jintung akan segera dipindahkan
di ujung selatan kawasan Desa Jintung. Oleh karena itu, saya meminta bantuan
Bapak untuk menginformasikannnya kepada pedagang lain agar segera pindah
maksimal lusa.”
Sarimin : “Apa?! Bagaimana mungkin kami dapat berpindah tempat
dalam waktu sesingkat itu, Pak?”
Karsa : “Bukannya saya tidak memikirkan hal tersebut, tetapi
itu sudah menjadi perintah dari pimpinan karena akan dibangun sebuah pabrik
kecil di sana.”
Sarimin : “Kalau begitu saya tidak yakin kami para pedagang
bisa serempak memindahkan barang-barang kami lusa besok. Memang tanah yang
digunakan untuk Pasar Jintung itu milik pemerintah tapi bukan berarti kami para
pedagang terima apabila diperlakukan seenaknya seperti ini. Jelas-jelas ini
bukan hal yang bisa diaplikasikan seperti membalikan telapak tangan. Bisa saja
saya dan pedagang lainnya mendemo kantor Bapak atas perihal ini.”
Mendengar suara Sarimin yang
bernada tinggi pimpinan dari kantor tersebut datang menghampiri Karsa dan
Sarimin.
Arifin : “Maaf menggangu, ada apa ini ribut-ribut?”
Karsa : “Begini Pak Arif, saya sedang menjelaskan mengenai
rencana pemindahan Pasar Jintung kepada Bapak ini. Tetapi Beliau kurang setuju
apabila kita hanya memberi tenggang waktu sampai lusa.”
Arifin : “Oh jadi itu permasalahnya. Anda dan pedagang
lainnya tidak perlu khawatir karena dari pihak kami akan memberikan bantuan
berupa truk pengangkut barang. Lagipula, tempatnya tidak begitu jauh dari Pasar
Jintung sendiri.”
Sarimin : “Lalu, bagaimana harga sewanya nanti, Pak?”
Arifin : “Harga sewa dan luas lahan masing-masing pedagang
akan sama seperti yang sebelumnya.”
Sarimin : “Oh kalau begitu saya setuju, begitu juga dengan
pedagang lainnya pasti akan berpendapat sama dengan saya. Ya sudah kalau begitu
saya pamit dulu. Terima kasih, Pak.”
Karsa : “Terima kasih juga atas bantuannya dalam
menyampaikan info ini, Pak.”
Setibanya di Pasar Jintung
Sarimin segera bergegas memberitahukan hal tersebut kepada para pedagang lain
yang tengah asik menjajakan barang dagangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar