Minggu, 01 Juni 2014

Pemindahan Lahan Pasar Jintung



Oleh : Digna Meintari N dan Nadhira Shafa G

Pemindahan Lahan Pasar Jintung

Di tengah hiruk pikuk kebisingan pasar, seorang bernama Karsa sedang berkeliling pasar untuk memantau keadaan pasar tersebut. Karsa adalah pengelola pasar di salah satu desa yang cukup luas di Kota Jakarta. Dia menemui salah seorang pedagang yang merupakan ketua paguyuban pedagang di pasar tersebut yang bernama Sarimin.
Karsa : “Selamat pagi.”
Sarimin : “Selamat pagi, Pak. Tidak biasanya pagi-pagi begini sudah ada di sini.”
Karsa : “Iya Pak, saya sedang memantau keadaan pasar, kebetulan ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada Bapak.”
Sarimin : “Kalau boleh tahu, hal penting apa yang ingin Anda sampaikan kepada saya, Pak?”
Karsa : “Bagaimana kalau kita membicarakannya di tempat yang lebih tertutup. Saya khawatir ada pedagang lain yang mendengar.”
Sarimin : “Apakah harus sekarang, Pak?”
Karsa : “Iya tentu, karena ini bukan hal yang bisa ditunda-tunda lagi.”
Sarimin : “Oh, baiklah kalau begitu.”
Akhirnya mereka memutuskan untuk membicarakan hal tersebut di Kantor Pengelola Pasar Jintung tempat Karsa bekerja.
Sarimin : “Jadi Pak, apa yang perlu saya ketahui?”
Karsa : “Begini Pak, Pasar Jintung akan segera dipindahkan di ujung selatan kawasan Desa Jintung. Oleh karena itu, saya meminta bantuan Bapak untuk menginformasikannnya kepada pedagang lain agar segera pindah maksimal lusa.”
Sarimin : “Apa?! Bagaimana mungkin kami dapat berpindah tempat dalam waktu sesingkat itu, Pak?”
Karsa : “Bukannya saya tidak memikirkan hal tersebut, tetapi itu sudah menjadi perintah dari pimpinan karena akan dibangun sebuah pabrik kecil di sana.”
Sarimin : “Kalau begitu saya tidak yakin kami para pedagang bisa serempak memindahkan barang-barang kami lusa besok. Memang tanah yang digunakan untuk Pasar Jintung itu milik pemerintah tapi bukan berarti kami para pedagang terima apabila diperlakukan seenaknya seperti ini. Jelas-jelas ini bukan hal yang bisa diaplikasikan seperti membalikan telapak tangan. Bisa saja saya dan pedagang lainnya mendemo kantor Bapak atas perihal ini.”
Mendengar suara Sarimin yang bernada tinggi pimpinan dari kantor tersebut datang menghampiri Karsa dan Sarimin.
Arifin : “Maaf menggangu, ada apa ini ribut-ribut?”
Karsa : “Begini Pak Arif, saya sedang menjelaskan mengenai rencana pemindahan Pasar Jintung kepada Bapak ini. Tetapi Beliau kurang setuju apabila kita hanya memberi tenggang waktu sampai lusa.”
Arifin : “Oh jadi itu permasalahnya. Anda dan pedagang lainnya tidak perlu khawatir karena dari pihak kami akan memberikan bantuan berupa truk pengangkut barang. Lagipula, tempatnya tidak begitu jauh dari Pasar Jintung sendiri.”
Sarimin : “Lalu, bagaimana harga sewanya nanti, Pak?”
Arifin : “Harga sewa dan luas lahan masing-masing pedagang akan sama seperti yang sebelumnya.”
Sarimin : “Oh kalau begitu saya setuju, begitu juga dengan pedagang lainnya pasti akan berpendapat sama dengan saya. Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu. Terima kasih, Pak.”
Karsa : “Terima kasih juga atas bantuannya dalam menyampaikan info ini, Pak.”
Setibanya di Pasar Jintung Sarimin segera bergegas memberitahukan hal tersebut kepada para pedagang lain yang tengah asik menjajakan barang dagangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar