Minggu, 01 Juni 2014

Teks Negosiasi-Negosiasi Tentang Anggaran Dana Koperasi-



Pengurus OSIS berinisiatif untuk mendirikan koperasi sekolah yang banyak memudahkan siswa dalam memperoleh peralatan sekolah dengan  harga yang terjangkau. Siang itu Rivi dan Rani sebagai pengurus OSIS menemui kepala sekolah untuk mengajukan usulan program tersebut.

Rivi dan Rani: “Selamat siang, Pak.”
Kepala sekolah: “Ya, selamat siang.”
Rani: “Maaf, Pak sebelumnya kami mengganggu kegiatan Bapak.”
Kepala sekolah: “Ya, tidak apa-apa, silakan duduk. Ada yang bisa saya bantu?”
Rivi : “Begini, Pak, kami mewakili dari pengurus OSIS akan mengajukan usulan program untuk mendirikan koperasi sekolah.”
Rani: “Kami mendirikan koperasi ini bertujuan agar siswa dapat memperoleh kebutuhan sekolah tanpa harus keluar dari lingkungan sekolah”
Kepala sekolah: “Hmmm. . . Boleh saya melihat proposal untuk pengajuan program ini?”
Rivi: “Oh iya, Pak, ini, silakan!”
Beberapa saat kemudian setelah Bapak Kepala Sekolah membaca proposal yang telah diberikan oleh pengurus OSIS, kepala sekolah belum menyetujui anggaran yang diajukan oleh pihak pengurus OSIS.
Rivi: “Bagaimana, Pak dengan proposal yang kami ajukan. Apakah Bapak setuju dengan rencana kami?”
Kepala sekolah: “Saya sependapat dengan rencana ini, namun anggaran yang diajukan untuk  mendirikan koperasi ini terlalu besar untuk sekolah.”
Rani: “Lalu bagaimana, Pak? Akankah rencana kami ini tidak akan di-acc?”
Kepala sekolah: “Mungkin dari pihak sekolah akan menyetujuinya, tapi dari anggaran yang diajukan, pihak sekolah hanya bisa memberikan dana separuh dari anggaran yang diajukan.Bagaimana menurut  kalian?”
Rivi : “Wah, Pak, jika hanya setengah masih sangat kurang.”
Rani : “Bagaimana kalau 90% dari anggaran yang kami ajukan?”
Kepala sekolah: “Maaf, Mbak, pihak sekolah masih belum bisa memberikannya. Bagaimana kalau 60% dari anggaran yang diajukan?”
Rivi: “Wah, Pak, itu masih jauh dari cukup Pak.”
Rani: “Tolonglah, Pak dinaikkan lagi. Kami berjanji akan menggunakan koperasi ini dengan baik.”
Kepala sekolah: “Begini saja, kami dari pihak sekolah akan memberikan 70% dari anggaran yang diajukan. Kami tidak dapat memberikan lebih, karena saat ini dana akan digunakan untuk perbaikan perpustakaan.”
Rivi: “Tapi, Pak anggaran sebesar itu belum bisa mencukupi target kami. Tidak memungkinkan jika kami mencari 30%-nya dari penggalangan dana kami.”
Kepala sekolah: “Bagaimana ya, Mbak, dana yang diajukan terlalu besar.”
Rani: “Tolonglah dinaikkan, bagaimana kalau 85%, Pak?”
Kepala sekolah : “Hmmm...
Rivi: “Bagaimana, Pak? Apakah disetujui 85%?”
Kepala sekolah: “Baiklah, saya akan mencoba berunding dulu dengan pihak yang lain.”
Rani: “Baiklah, Pak, kalau begitu kami juga akan merundingkan dengan pihak kami.”
Rivi: “Terima kasih, Pak atas kebesaran hati Bapak. Kami mohon bantuannya, Pak.”
Kepala sekolah: “Iya, Mbak, sama-sama.”
Rani: “Kami mohon pamit, Pak. Maaf, Pak, kami telah mengganggu waktu Bapak.”
Kepala sekolah: “Ya, Mbak tidak apa-apa.”
Rivi dan Rani: “Terima kasih, Pak, selamat siang.”
Kepala sekolah: “Selamat siang.”

Pada akhirnya kepala sekolah menyetujui anggaran dana yang diajukan oleh pihak pengurus OSIS. Rani dan Rivi sebagai pihak pengurus OSIS segera memberitahukan keputusan pihak sekolah kepada pengurus OSIS yang lain.

Oleh: Rani P./MIA 4.2/22
          Rivi Monica P./MIA 4.2/25

Pemindahan Lahan Pasar Jintung



Oleh : Digna Meintari N dan Nadhira Shafa G

Pemindahan Lahan Pasar Jintung

Di tengah hiruk pikuk kebisingan pasar, seorang bernama Karsa sedang berkeliling pasar untuk memantau keadaan pasar tersebut. Karsa adalah pengelola pasar di salah satu desa yang cukup luas di Kota Jakarta. Dia menemui salah seorang pedagang yang merupakan ketua paguyuban pedagang di pasar tersebut yang bernama Sarimin.
Karsa : “Selamat pagi.”
Sarimin : “Selamat pagi, Pak. Tidak biasanya pagi-pagi begini sudah ada di sini.”
Karsa : “Iya Pak, saya sedang memantau keadaan pasar, kebetulan ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada Bapak.”
Sarimin : “Kalau boleh tahu, hal penting apa yang ingin Anda sampaikan kepada saya, Pak?”
Karsa : “Bagaimana kalau kita membicarakannya di tempat yang lebih tertutup. Saya khawatir ada pedagang lain yang mendengar.”
Sarimin : “Apakah harus sekarang, Pak?”
Karsa : “Iya tentu, karena ini bukan hal yang bisa ditunda-tunda lagi.”
Sarimin : “Oh, baiklah kalau begitu.”
Akhirnya mereka memutuskan untuk membicarakan hal tersebut di Kantor Pengelola Pasar Jintung tempat Karsa bekerja.
Sarimin : “Jadi Pak, apa yang perlu saya ketahui?”
Karsa : “Begini Pak, Pasar Jintung akan segera dipindahkan di ujung selatan kawasan Desa Jintung. Oleh karena itu, saya meminta bantuan Bapak untuk menginformasikannnya kepada pedagang lain agar segera pindah maksimal lusa.”
Sarimin : “Apa?! Bagaimana mungkin kami dapat berpindah tempat dalam waktu sesingkat itu, Pak?”
Karsa : “Bukannya saya tidak memikirkan hal tersebut, tetapi itu sudah menjadi perintah dari pimpinan karena akan dibangun sebuah pabrik kecil di sana.”
Sarimin : “Kalau begitu saya tidak yakin kami para pedagang bisa serempak memindahkan barang-barang kami lusa besok. Memang tanah yang digunakan untuk Pasar Jintung itu milik pemerintah tapi bukan berarti kami para pedagang terima apabila diperlakukan seenaknya seperti ini. Jelas-jelas ini bukan hal yang bisa diaplikasikan seperti membalikan telapak tangan. Bisa saja saya dan pedagang lainnya mendemo kantor Bapak atas perihal ini.”
Mendengar suara Sarimin yang bernada tinggi pimpinan dari kantor tersebut datang menghampiri Karsa dan Sarimin.
Arifin : “Maaf menggangu, ada apa ini ribut-ribut?”
Karsa : “Begini Pak Arif, saya sedang menjelaskan mengenai rencana pemindahan Pasar Jintung kepada Bapak ini. Tetapi Beliau kurang setuju apabila kita hanya memberi tenggang waktu sampai lusa.”
Arifin : “Oh jadi itu permasalahnya. Anda dan pedagang lainnya tidak perlu khawatir karena dari pihak kami akan memberikan bantuan berupa truk pengangkut barang. Lagipula, tempatnya tidak begitu jauh dari Pasar Jintung sendiri.”
Sarimin : “Lalu, bagaimana harga sewanya nanti, Pak?”
Arifin : “Harga sewa dan luas lahan masing-masing pedagang akan sama seperti yang sebelumnya.”
Sarimin : “Oh kalau begitu saya setuju, begitu juga dengan pedagang lainnya pasti akan berpendapat sama dengan saya. Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu. Terima kasih, Pak.”
Karsa : “Terima kasih juga atas bantuannya dalam menyampaikan info ini, Pak.”
Setibanya di Pasar Jintung Sarimin segera bergegas memberitahukan hal tersebut kepada para pedagang lain yang tengah asik menjajakan barang dagangannya.

Sabtu, 31 Mei 2014

Agni 03 Diky 14 Teks Negosiasi

Agnindya Puri   /03
Diky Renaldi K.  /14


Program Pembangunan Laboratorium Batik

            Para pengusaha batik di Kota Salatiga sedang menghadapi keluhan dari para pelanggan yang mengeluhkan tentang kualitas batik yang jelek. Menanggapi itu, Ketua Paguyuban Pengusaha Batik Seluruh Indonesia cabang Salatiga, berinisiatif untuk melakukan kerjasama dengan pemerintah. Dia mengusulkan program kepada pemerintah untuk membuatkan laboratorium batik. Dia membuat janji kepada seorang perwakilan pemerintah untuk bertemu di suatu tempat. Pemerintah pun menyetujui hal tersebut. Pemerintah menugaskan Kepala Seksi Kebudayaan dan Pariwisata yang membidangi hal tersebut.

Keesokan harinya, mereka bertemu di ruang tunggu kantor pemerintah.

(1)     Pengusaha Batik    : "Selamat siang, Pak."
(2)     Wakil Pemerintah  : "Selamat siang. Mari silakan duduk."
(3)     Pengusaha Batik    : "Baik, Pak."
(4)  Wakil Pemerintah : "Jadi, langsung saja, Anda jelaskan bagaimana proyek laboratorium batik      yang Anda usulkan."
(5)    Pengusaha Batik   : "Baik, begini Pak. Saya, perwakilan dari Paguyuban Pengusaha Batik          Seluruh Indonesia cabang Salatiga, menampung aspirasi dari para pelanggan yang mengeluhkan    tentang kualitas produk batik di daerah ini yang kurang baik."
(6)     Wakil Pemerintah  : "Mengapa bisa begitu?"
(7)     Pengusaha Batik : "Kami belum tahu mengapa kualitas batik Kota Salatiga lebih rendah dari        produk batik di daerah lain. Maka dari itu, kami menginginkan untuk dibangunkan gedung        laboratorium batik."
(8)        Wakil Pemerintah  : "Oh, begitu. Tujuan yang lain?"
(9)        Pengusaha Batik    : "Tidak ada, Pak. Ya hanya itu."
(10)  Wakil Pemerintah  : "Kalau hanya itu tujuannya, gedung ini tidak bisa direalisasikan."
(11)  Pengusaha Batik    : "Mengapa bisa begitu, Pak?"
(12)  Wakil Pemerintah  : "Ya memang begitu aturannya. Untuk membangun sebuah gedung di kota      ini, paling tidak harus menyiapkan tiga tujuan yang mendasarinya."
(13)  Pengusaha Batik  : "Oh, begitu. Tujuan yang kedua adalah untuk melestarikan budaya asli kota      ini, Pak. Disana kita juga akan mendirikan museum untuk menaruh hasil karya para perajin di        Kota Salatiga, Pak."
(14)  Wakil Pemerintah  : "Ya, baik. Itu cukup menarik. Tujuan yang selanjutnya?"
(15)  Pengusaha Batik   : "Laboratorium ini juga bisa dijadikan tempat wisata, Pak. Kami akan desain   bangunan itu semenarik mungkin untuk menarik perhatian penduduk sekitar atau bahkan turis        asing, Pak. Hal itu akan menambah pendapatan kota ini juga kan, Pak?"
(16)  Wakil Pemerintah : "Ya, itu benar. Mendengar tujuan pembangunan ini tadi, saya kira                    pembangunan ini akan mendapat persetujuan dari Pemda dan DPRD."
(17)  Pengusaha Batik    : "Terima kasih, Pak."
(18)  Wakil Pemerintah  : "Ya. Secepatnya, kami akan merealisasikan program ini."
(19)  Pengusaha Batik     : "Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih ya, atas kerja samanya."
(20)  Wakil Pemerintah : "Ya sama-sama. Memang sudah menjadi tanggung jawab kami untuk              membahagiakan masyarakat sekitar."
(21)  Pengusaha Batik     : "Hehehe, iya, Pak. Boleh saya keluar?"
(22)  Wakil Pemerintah  : "Iya, silakan."
(23)  Pengusaha batik     : "Terima kasih, Pak. Selamat siang."
(24)  Wakil Pemerintah  : "Ya, selamat siang."

              Pemerintah yang diwakilkan oleh Kepala Seksi Kebudayaan dan Pariwisata ini akhirnya     menyetujui usulan program tersebut. Dalam waktu dekat, Kota Salatiga akan mempunyai     Laboratorium Batik, yang sekaligus menjadi Museum Batik Salatiga. 



Teks Negosiasi “Laboratorium Batik”

Terdapat sebuah perusahaan batik yang sangat tersohor di sebuah negara. Perusahan itu dikelola oleh pengusaha, sebut saja Mahmud. Dia seorang pengusaha yang mempunyai intelektual tinggi. Dari hasil pengamatannya, sekarang batik-batik yang beredar di pasaran memiliki kualitas yang sangat rendah. Lalu, dia ingin mendirikan sebuah laboratorium batik yang dikelola oleh pemerintah. Dia pun mengirim wakilnya untuk menemui pemerintah daerah yang mengurusi bidang kesenian.
WPB: “Selamat siang, Pak”
WPK: “Selamat siang, silakan duduk”
WPB: “Ya, Pak. Terima kasih”
WPK: “Maaf sebelumnya. Anda siapa?”
WPB: “Saya Ahmad, wakil dari perusahaan batik.”
WPK: “Lalu, ada urusan apa? Sampai Bapak datang ke sini.”
WPB: “Begini, Pak. Perusahaan kami melihat bahwa pada masa sekarang, batik yang beredar di  pasaran memiliki kualitas yang rendah. “
WPK: “Lalu?”
WPB: “Karena hal itu, kami ingin mendirikan proyek.”
WPK: “Apa proyeknya?”
WPB: “Proyek itu sebuah laboratorium batik.”
WPK: “Lalu, apakah perusahaan Anda telah merincikan dana untuk  proyek itu dan berapakah dana yang harus dikeluarkan?”
WPB: “Ya, kami telah menyusun rincian dana untuk proyek itu. Dana itu berkisar 1,2 miliar rupiah. Kami memohon agar pemerintah juga ikut andil dalam mendanai  proyek itu  sebesar lima ratus juta rupiah.”
Kedua orang itu berdiam sejenak...
WPB: “Bagaimana, Pak?”
WPK: “Sebelum Saya menerima, Saya mau tanya.”
WPB: “Silakan, Pak.”
WPK: “Apa keuntungan dari proyek itu, jika telah jadi?”
WPB: “Keuntungan dari proyek itu cukup banyak, Pak. Yang pertama proyek itu atau laboratorium itu bisa digunakan untuk meneliti batik yang ada di pasaran, jadi kita bisa mengembalikan atau menolak barang yang mempunyai kualitas yang sangat rendah dan masyarakat negara ini tidak tertipu oleh barang itu.”
WPK: “Lalu apa lagi?”
WPB: “Yang kedua laboratorium itu bisa untuk tempat wisata, yang dapat dikunjungi baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Jadi, jika banyak wisatawan mancanegara, negara kita mendapat devisa yang lumayan. Menurut Bapak bagaimana?”
WPK: “Lalu apa saja, yang terdapat di dalam laboratorium itu?”
WPB: “Seperti yang Saya katakan tadi, di laboratorium itu terdapat bangunan untuk meneliti batik, tempat untuk menjual batik, dimana batik itu bisa digunakan sebagai oleh-oleh, ada  juga museum yang menyimpan batik-batik yang legendaris.”
WPK: “Apakah laboratorium itu bisa digunakan oleh pihak asing?”
WPB: “Ya bisa. Tetapi harus memakai surat perjanjian atau surat pernyataan.”
WPK: “Baiklah kalau begitu,... Saya akan mengusulkan kepada pemerintah pusat sebesar empat ratus juta.”
WPB: “Naikkan lagi, Pak. Proyek ini juga bermanfaat bagi negara kita.”
WPK: “Baiklah,.. Nanti Saya usulkan antara 450 juta sampai 500 juta.”
WPB: “Ya, Pak,.. Terima kasih. Semoga dana yang Bapak usulkan bisa diterima dan bermanfaat.”
Akhirnya mereka berjabat tangan. Wakil perusahaan pun kembali ke perusahaannya.

**WPB= Wakil Perusahaan Batik
**WPK= Wakil Pemerintah Urusan Kesenian

Disusun oleh :
1.       Afriska Yusuf W (MIA 4.2/ 02)
2.       Arga Cahya P      (MIA 4.2/ 07)­­

Arifatul Mu'amalah / 08
Dhea Novitasari / 11

Usulan Koperasi
Tanggal 21 Mei 2013, sehari setelah diadakannya pertemuan anggota OSIS SMAN Taruna, Adi selaku ketua OSIS SMAN Taruna dan Ahmad selaku wakil ketua OSIS SMAN Taruna menemui kepala sekolah untuk mengajukan proposal usulan progam sekolah.
Adi                         : "Selamat siang, Pak." (Sambil bersalaman)
Kepala sekolah       : "Selamat siang. Ada keperluan apa kalian kesini ?"
Ahmad                   : "Begini, Pak. Setelah kami adakan pertemuan anggota OSIS, kami selaku perwakilan OSIS SMAN Taruna ingin menyampaikan usulan dari teman-teman."
Kepala sekolah       : "Ya, usulan apa Nak ?"
Adi                         : "Teman-teman mengusulkan agar SMAN Taruna memiliki koperasi yang dikelola sendiri oleh siswa. Ini proposal dari usulan kami, Pak." (Menyerahkan proposal)
Kepala sekolah       : "Mengapa kalian ingin mendirikan koperasi? Bukankah di sekolah sudah ada kantin?" (Sambil membaca proposal)
Ahmad                   : "Kalau kantin di sekolah hanya menyediakan makanan dan minuman saja, tidak menyediakan perlengkapan alat tulis. Jika kita membutuhkan alat tulis, kita harus keluar dulu untuk membelinya, dan menurut kami itu tidak efektif, Pak."
Adi                         : "Iya, Pak. Koperasi itu nanti akan menyediakan berbagai keperluan siswa. Mulai dari perlengkapan sekolah, alat-alat tulis, sampai makanan dan minuman."
Kepala sekolah       : "Begini, Nak. Untuk mendirikan sebuah koperasi perlu biaya yang tidak sedikit, butuh biaya yang banyak."
Ahmad                   : "Benar, Pak. Tetapi jika kita memiliki koperasi sekolah sendiri, apalagi yang mengelola siswa itu akan membantu siswa dalam memenuhi kebutuhan sekolah dan akan mengasah kemampuan siswa dalam berorganisasi dan berwirausaha."
Kepala sekolah       : "Ya, kalian memang benar. Saya sepemikiran dengan kalian. Tetapi, tadi sudah saya katakan, biaya yang diperlukan tidak sedikit dan sekolah tidak memiliki dana yang cukup."
Adi                         : "Apa sekolah tidak mendapatkan dana BOS ?"
Kepala sekolah       : “Ya pastinya dapat, tetapi uang itu bukan untuk koperasi, Nak. Dana BOS digunakan untuk membiayai siswa yang tidak mampu. Sebenarnya di sekolah kita ada uang kas, tetapi hanya sedikit, tidak cukup untuk mendirikan kopersi.”
Ahmad                   : “ Kalau begitu, kami akan mencari dana tambahan.”
Kepala sekolah       : “Dari mana?”
Ahmad                   : “ Kami akan melakukan gali dana.”
Adi                         : “ Benar, Pak. Kami akan berjualan keliling sekolah untuk gali dana. Keuntungan dari berjualan nanti untuk tambahan biaya mendirikan koperasi.”
Kepala sekolah       : “Baiklah, saya setuju kalau begitu. Kalian boleh gali dana, mencari dana tambahan untuk mendirikan koperasi. Saya beri waktu 2 bulan untuk gali dana. Nanti sekolah akan memberikan dana juga. Silahkan kalian berdua merancang berapa dana yang kita perlukan. Nanti dari kalian setengah, dari sekolah setengah.”
Ahmad                   : “Baik, Pak. Terima kasih atas ijinnya.”
Adi                         : “Untuk rancangan harganya, kami akan segera membuat proposal dan memberikannya pada Bapak.”
Kepala sekolah       : “Ya, segeralah membuat proposal agar permintaan kalian juga segera terealisasikan.”
Ahmad                   : “Baik, Pak. Terima kasih sekali lagi.”
Adi                         : “Mari, Pak.”
Kepala sekolah       : “Ya, sama-sama.”
                   Kepala SMAN Taruna telah menyetuji usulan dari perwakilan OSIS SMAN Taruna. Dan pihak sekolah akan memberikan dana untuk mendirikan kopersi, tetapi dana yang diberikan hanya setengah dari dana yang dibutuhkan dan setengah  dana yang diperlukan akan dicari sendiri oleh siswa dengan cara gali dana.
Nurlita Dhuha Fatmawati / 20
Syifa Khairunnisa / 27

Penurunan Harga Sewa Kios

                Para pedagang di suatu pasar merasa keberatan dengan harga sewa  kios di pasar tersebut karena kebutuhan sehari hari mereka meningkat dan juga pengunjung pasar sedikit demi sedikit berkurang karena menjamurnya pasar modern atau supermarket di daerah sekitar pasar. Mereka berencana mengusulkan penurunan harga sewa kios dengan diwakili oleh ketua paguyuban pedagang.

Ketua paguyuban pedagang    : ‘’Selamat siang, Pak.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Selamat siang. Silahkan duduk.
Ketua paguyuban pedagang    : “Terima kasih, Pak.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Ada keperluan apa Anda datang kemari?”
Ketua paguyuban pedagang    : “Sebelumnya perkenalkan, nama saya Syifa Khairunnisa ketua paguyuban pedagang di pasar ini. Saya mewakili rekan rekan saya untuk mengajukan permintaan penurunan harga sewa kios, Pak.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Memangnya kenapa?”
Ketua paguyuban pedagang    : “Begini, Pak. Menurut kami harga Rp 1.500.000,00 per bulan terlalu mahal.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Bukankah dari dulu harga sewa Rp 1.500.000,00 per bulan tidak pernah dipermasalahkan?
Ketua paguyuban pedagang    : “Kebutuhan kami meningkat sedangkan harga bahan pokok juga meningkat, ditambah lagi pengunjung di pasar ini mulai menurun karena menjamurnya supermarket disekitar sini. Paling tidak, tolong harga sewa diturunkan hingga 25%, Pak.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Itu tidak mungkin. Pihak pasar juga membutuhkan banyak biaya untuk pengelolaan pasar. Belum lagi pasar ini akan direnovasi, tentu saja itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Tolong lah, Pak dipertimbangkan lagi.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Harga sewa diturunkan hingga 25% itu tidak mungkin, saya mungkin bisa mengusulkan penurunan harga sewa hingga 10%."
Ketua paguyuban pedagang    : “Mohon diturunkan lagi, Pak. Omzet mingguan kami rata rata hanya Rp 500.000,00. Masih terlalu berat untuk kami membayar harga sewa per bulan."
Pimpinan pengelola pasar        : “Bagaimana jika 15%?”
Ketua paguyuban pedagang    : “Baiklah, tapi tolong usahakan lebih, Pak.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Ya, akan saya usahakan.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Baiklah, nanti akan saya sampaikan kepada rekan –rekan saya. Boleh saya keluar, Pak?”
Pimpinan pengelola pasar        : “Ya, silahkan.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Terima kasih atas waktunya, Pak. Selamat siang.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Selamat siang.”

                Pimpinan pengelola pasar dan ketua paguyuban pedagang akhirnya sepakat untuk menurunkan harga sewa kios hingga 15%. Ketua paguyuban pedagang pun kembali ke pasar untuk memberi tahu para pedagang yang lain dan melanjutkan pekerjaannya.



Abi Hidayat MIA 4.2/01
Muhammad Ogan I.I. MIA 4.2/18

Renovasi Pasar

Dalam rangka mengahadapi Bulan Ramadhan dan Lebaran tahun 2014, pihak pengelola pasar ingin memperbaiki pasar sekaligus sarana dan prasarana dikarenakan kondisi pasar yang kumuh dan sudah tidak layak pakai. Hal ini dimaksudkan agar pedagang dan pembeli merasa nyaman dalam melakukan transaksi jual beli. Kemudian, pengelola pasar melakukan pembicaraan dengan ketua paguyuban pedagang untuk membicarakan rencana pemindahan pedagang sementara guna memperlancar proses perbaikan. Terjadi perbedaan pendapat waktu pemindahan dan lokasi sementara para pedagang.

Ketua paguyuban pedagang    : ‘’Selamat siang.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Selamat siang.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Ada yang bisa Saya bantu, Pak?”
Pimpinan pengelola pasar        : “BeginiPak, dalam rangka menyambut Bulan Ramadhan tahun ini. Pemerintah berniat memperbaiki pasar kita ini.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Kapan perbaikan dimulai, Pak?”
Pimpinan pengelola pasar        : “Secepatnya Pak, menunggu proses pemindahan pedagang dulu, Pak.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Kapan mulai pemindahan pedagang?”
Pimpinan pengelola pasar        : “Bagaimana kalau minggu depan?”
Ketua paguyuban pedagang    : “Apakah bisa diberi waktu lagi, Pak?”
Pimpinan pengelola pasar        : “Kira-kira butuh berapa lama untuk memindahkan dagangan kalian?”
Ketua paguyuban pedagang    : “Ya kira-kira butuh dua minggu.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Apakah tidak bisa lebih cepat lagi?”
Ketua paguyuban pedagang    : “Kami butuh banyak waktu, Pak. Karena dagangan kami banyak-banyak.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Bagaimana kalau 10 hari. Kami juga butuh banyak waktu untuk memperbaiki pasar kalian.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Baiklah, nanti akan saya sampaikan kepada teman-teman Saya.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Oke.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Lantas dimanakah tempat sementara kami berdagang?”
Pimpinan pengelola pasar        : “Di lapangan samping simpang enam.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Saya tidak yakin apakah disana strategis.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Nanti akan saya sosialisasikan dengan masyarakat setempat, supaya mereka mengetahui keberadaan pasar sementara.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Baiklah. Saya bersama teman –teman akan mendukung proyek ini.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Baguslah. Sebaiknya kalian harus segera bergegas. Jika tidak, Kami akan menggusur pasar secara paksa.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Siap, Pak.”
Pimpinan pengelola pasar        : “Terima kasih atas waktu Anda. Selamat siang.”
Ketua paguyuban pedagang    : “Siang.”

                Akhirnya pimpinan pengelola pasar dan ketua paguyuban pedagang pun sepakat menetapkan waktu dan lokasi pemindahan sementara pasar yang akan direnovasi. Kemudian mereka kembali ke pekerjaan masing-masing.