Minggu, 01 Juni 2014

NEGOSIASI MENDIRIKAN KOPERASI SISWA

NEGOSIASI MENDIRIKAN KOPERASI SISWA

Hari ini, 27 Mei 2014 Pengurus OSIS melakukan pertemuan dengan pihak sekolah untuk membahas usulan program pendirian koperasi sekolah yang dikelola oleh siswa. Hal ini bertujuan untuk menyatukan pandangan kedua belah pihak. Dialog ini berlangsung di Ruang OSIS.
(1) Pengurus OSIS                    : " Selamat siang, Pak."
(2) Pihak sekolah                     : “Selamat siang.”
(3) Pengurus OSIS                   : “Silakan duduk, Pak. “
(4) Pihak sekolah                     : “Oh ya, terimakasih .”
(5) Pengurus OSIS                   :“ Pertama-tama saya, sebagai perwakilan dari teman - teman pengurus OSIS mengucapkan terimakasih kepada Bapak yang telah meluangkan waktunya untuk menghadiri rapat yang kami adakan. Mari kita mulai rapat hari ini guna membahas usulan pendirian koperasi yang dikelola oleh siswa.”
(6) Pihak Sekolah                     : “Baiklah,”
(7) Pengurus OSIS                 : “Berdasarkan proposal yang sudah kami ajukan kemarin, kami mengharapkan persetujuan dari pihak sekolah dalam pendirian koperasi yang dikelola oleh siswa sendiri. “
(8) Pihak sekolah                  : “Ya baik. Berdasarkan pengajuan yang telah     diterima kami kurang setuju dengan usulan pendirian koperasi siswa, karena di sekolah ini sudah ada koperasi yang dikelola oleh guru.”
(9) Pengurus OSIS                : “Namun pendirian koperasi sekolah yang dikelola oleh siswa sendiri ini patut direalisasikan. Karena akan membina rasa tanggung jawab, disiplin, setia kawan dan jiwa koperasi pada siswa. “
(10) Pihak sekolah               : “Berdasarkan pengalaman dari tahun – tahun sebelumnya, ketika siswa dipercaya untuk mengelola koperasi mereka tidak menggunakan kepercayaan itu dengan baik. “
(11) Pengurus OSIS                    : “Namun untuk tahun ini berbeda,Pak. Kami sudah merancang dengan matang, baik struktur maupun agenda koperasi agar koperasi ini berjalan dengan baik.” 
(12) Pihak sekolah             : “Itu gagasan yang baik. Namun, mendirikan koperasi itu tidak mudah, kalian harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Terutama modal untuk mendirikan koperasi. Padahal, anggaran untuk koperasi di sekolah ini sudah dilimpahkan sepenuhnya untuk koperasi yang dikelola oleh guru. Jadi kami tidak bisa membantu memberi modal untuk mendirikan koperasi kalian. “
(13) Pengurus OSIS                  : “Tapi Pak, koperasi siswa ini sangat bermanfaat apalagi sebentar lagi akan ada penerimaan siswa baru. Sehingga kami juga bisa menampung siswa baru untuk ikut serta dalam pengembangan koperasi siswa ini. “
(14) Pihak sekolah                   : “Wow,ide yang bagus. Tetapi sebentar lagi kalian akan menghadapi UAS, apa itu tidak akan mengganggu belajar kalian? Mendirikan koperasi tidak semudah yang kalian bayangkan. “
(15) Pengurus OSIS              : “Tidak Pak, kami bisa profesional. Kami tetap memprioritaskan belajar kami, mendirikan koperasi ini hanya untuk melatih jiwa kewirausahaan dan melaksanakan asas koperasi seperti yang telah kami dapat disaat sekolah.” 
(16) Pihak sekolah             : “Namun, koperasi yang dikelola guru sudah lengkap, sehingga peluang kalian untuk menjalankannya nanti kan susah. “
 (17) Pengurus OSIS                 : “Kami nanti akan menyediakan kebutuhan para siswa sedangkan guru menyediakan kebutuhan guru agar setiap koperasi memiliki peluang masing-masing. “
(18) Pihak sekolah                    : “Baiklah. Lalu bagaimana dengan modal yang akan kalian gunakan untuk mendirikan koperasi ini? “
(19) Pengurus OSIS                    : “Apa kami bisa meminta sebagian anggaran dana koperasi kepada sekolah? “
(20) Pihak sekolah                    : “Itu sulit untuk diwujudkan karena anggaran untuk koperasi itu sangat kecil. Mungkin hanya sedikit yang dapat diberikan sekitar satu per empat dari anggaran koperasi yang ada. “
(21) Pengurus OSIS               : “Apa tidak bisa lebih pak? Kami akan benar-benar menggunaknnya untuk mendirikan koperasi, dan sisanya untuk modal berjalannya koperasi. “
(22) Pihak sekolah                : “Mungkin bisa tapi kami lihat dulu kinerja dan hasilnya dari kalian. “
(23) Pengurus OSIS              : “Baiklah Pak tapi kami meminta separuh dari anggaran dana koperasi itu, biar adil. “
(24) Pihak sekolah            : “Baiklah pihak sekolah akan mengusahakan agar dana untukmendirikan  koperasi siswa bisa keluar setengah dari anggaran koperasi sekolah. “
(25) Pengurus OSIS               : “Kami sangat berterimakasih jika hal itu bisa terealisasi. “
(26) Pihak sekolah                 : “Ya, namun ingat kalian harus profesional. “
(27) Pengurus OSIS              : “Baik pak kami akan menjalankan pesan bapak.  Saya kira pertemuan kita hari ini cukup sampai disini. Selamat siang Pak. “
(28) Pihak sekolah                    : “Selamat siang.”  
(berdiri dari duduknya, berjabat tangan dengan pengurus OSIS dan keluar dari  ruangan)

Farah 'Azizatun Nuur (15)
Saniati Nur Azizah     (26)

"Pendirian Laboraturium Batik" Maela Risky 18 Rahma Khusnul 21

Maela Risky 18
Rahma Khusnul 21
 Pendirian Laboraturium Batik

Pada masa kini kesadaran generasi muda Indonesia akan pentingnya budaya sangatlah kurang. Sebagai contohnya, pandangan anak muda terhadap batik. Mereka menganggap batik adalah hal yang kuno dan tidak keren. Padahal batik merupakan salah satu warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Namun, tidak semua pemuda Indonesia berpikiran begitu. Andani, seorang Pengusaha Batik Muda A, asal kota Majalengka ini sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya batik Indonesia. Dia memiliki ide untuk membentuk Laboraturium Batik bersama pengusaha batik lain di seluruh Indonesia.
Dia lalu mempersiapkan semuanya, termasuk mendata para pengusaha batik di seluruh Indonesia. Setelah menghubungi para pengusaha ternyata hanya tujuh pengusaha saja yang berpartisipasi mendukung proyeknya tersebut. Dan pada hari ini, dia mengumpulkan semua pengusaha batik yang tertarik pada proyek ini.

Andani              : "Selamat siang Bapak dan Ibu, silakan duduk. Sebelumnya terima kasih telah bersedia datang kemari untuk membahas tentang pembuatan Laboraturium Batik ini."
Tok tok tok..
Pengusaha B     : "Maaf bu, saya terlambat. Boleh saya masuk?"
Andani              : "Oh iya tak apa, silakan duduk. Tujuan saya mengumpulkan anda semua disini untuk menerangkan kepada anda tentang Laboraturium Batik yang rencananya akan dibangun sebagai fasilitas bersama guna menunjang kualitas dan menjaga kelestarian akan budaya batik di Indonesia. Dan semoga dapat lebih mengenalkan batik kepada dunia.”
Andani              : “Dalam rencananya, Laboraturium Batik ini akan dibangun di Jakarta Pusat yang merupakan pusat ibu kota Indonesia. Apakah Bapak dan Ibu setuju dengan usulan kami?”
Pengusaha C     : “Saya setuju dengan lokasi pembangunannya, karna menurut saya Jakarta Pusat merupakan tempat yang cukup strategis.”
Pengusaha E      : “Tapi apakah pajak yang harus dibayarkan tidak besar?”
Andani              : “Soal itu kita bisa membicarakannya dengan pemerintah daerah. Saya mengajukan proyek ini sebagai fasilitas umum karena ini merupakan milik kita semua dan aset negara.”
Pengusaha G     : “Lalu, bagaimana jika pemerintah tidak menyetujuinya?”
Pengusaha D     : “Ini adalah salah satu cara untuk melestarikan budaya bangsa, jadi mana mungkin mereka tidak menyetujuinya?”
Andani              : “Itu benar, lagipula kita melakukan ini dengan biaya yang akan kita kumpulkan bersama tiap bulannya.”
Pengusaha B     : “O iya soal itu, berapa iuran tiap bulannya, Bu?”
Pengusaha F      : “Jika proyek ini cukup besar, kita harus mengeluarkan uang yang cukup banyak juga ya, Bu?”
Andani              : “Proyek ini mungkin kedengaran cukup besar dan mahal. Namun sebenarnya ini proyek yang murah dan cukup menguntungkan. Ini dikarenakan produk dari Laboraturium Batik akan dijual di kota – kota besar di Indosesia dan juga kita akan mencoba menjualnya di manca negara. Oleh sebab itu uang yang dikeluarkan tiap bulan dikembalikan lagi kepada anda selama satu tahun sekali dan ditambahkan dengan laba yang diperoleh.”
Pengusaha H     : “Karena kita semua bukan merupakan pemilik perusahaan yang cukup besar, bagaimana jika iurannya Rp.1.000.000,00 per bulannya?”
Pengusaha G     : “Jika hanya satu juta, tiap bulannya kita hanya mendapat delapan juta saja. Apa ini akan cukup untuk biaya semuanya?”
Pengusaha D     : “Bagaimana jika RP.2.000.000,00?”
Pengusaha E      : “Dua juta itu terlalu banyak apalagi untuk perusahaan kami.”
Andani              : “Tidak perlu khawatir, proyek ini hanya memerlukan dana sekitar 20 juta rupiah perbulannya. Namun setiap pengusaha hanya perlu mengeluarkan Rp.1.500.000,00 per bulan dan sisanya saya akan mencoba untuk mencari sponsor dan bantuan dari pemerintah daerah.”
Pengusaha C     : “Itu ide yang bagus. Lalu, kapan rencananya proyek ini akan dimulai?”
Andani              : “Jika dimungkinkan kita akan memulai proyek ini bulan depan. Dan besok rencananya saya akan mengajukan proposal kepada pemerintah daerah. Saya mengajak dua dari anda semua untuk menjadi wakil bagi proyek ini. Apakah ada yang berkenan?”
Pengusaha B     : “Besok jam berapa, Bu?”
Andani              : “Sekitar jam sepuluh pagi.”
Pangusaha B     : “Saya bisa, Bu.”
Pengusaha C     : “Saya juga bisa, Bu.”
Andani              : “Baiklah besok, saya tunggu anda di depan kantor ini jam delapan.”
Pengusaha B, C : “Baiklah, Bu.”
Andani              : “Dengan begini saya akhiri diskusi hari ini dan hasil besok akan saya informasikan kepada Bapak dan Ibu dalam pertemuan selanjutnya. Terima kasih atas perhatiannya. Sampai berjumpa dipertemuan selanjutnya.”

Keesokan harinya tepat pukul 08.00 mereka sudah siap untuk berangkat ke Jakarta Pusat. Sesampainya disana Mereka langsung menuju ke Gedung Pemerintah Daerah. Sesuai janji mereka kepada Kepala Pemda merekapun bertemu tepat pukul 10.00 WIB di ruang pertemuan.

Andani              : “Selamat pagi, Pak.”
Kepala pemda   : “Selamat pagi, silakan duduk.”
Andani              : “Kami bertiga datang kemari dengan tujuan untuk mengajukan permohonan ijin dari bapak untuk pembangunan Laboratorium Batik di Jakarta Pusat. Kemarin saya sudah mendiskusikannya bersama pengusaha-pengusaha batik yang lain dan rencananya kami akan memulai proyeknya bulan depan.”
Kepala Pemda   : “Itu ide yang sangat bagus. Lantas apa yang harus saya lakukan untuk membantu?”
Pengusaha B     : “Kami memerlukan bantuan dari bapak untuk menyetujui proyek ini dan menjadikannya sebagai fasilitas umum. Karena kami mengalami kendala dalam hal pajak bangunannya.”
Kepala Pemda   : “Apakah proyek ini sudah direncanakan dengan baik?”
Pengusaha C     : “Sudah pak, seperti yang dikatakan Ibu Andani tadi kami sudah membicarakannya dengan beberapa perusahaan lain dan sudah disetujui.”
Andani              : “Kami mohon agar sebisa mungkin kami tidak perlu membayar pajak, dikarenakan perusahaan yang bergabung didalamnya bukanlah perusahaan besar. Pengeluaran produksi nanti kemungkinan juga besar, maka kami meminta kepada bapak.”
Kepala Pemda   : “Sebenarnya, apa tujuan dari pembentukan laboraturium ini?”
Andani              : “Tujuan dari laboraturium ini adalah untuk meningkatkan mutu dan kreasi akan kain batik Nusantara. Sehingga batik menjadi lebih menarik dan peminatnya semakin banyak.”
Kepala Pemda   : “Apa benar proyek ini sudah direalisasikan dengan baik?”
Andani              : “Iya, Pak. Kami benar-benar sudah merealisasikannya dengan baik. Bahkan anggaran pengeluaran setiap bulannya pun sudah kami perhitungkan.”
Kepala Pemda   : “Sebenarnya saya sedikit ragu. Saya khawatir apabila di tengah pembangunan proyek ini, tiba-tiba saja ada kendala yang membuat proyek ini dibatalkan. Nama saya juga akan ikut tercemar akan hal itu.”
Andani              : “Kami sudah yakin akan proyek ini, Pak. Kami sudah bertekad untuk segera menuntaskan proyek ini. Proyek ini nantinya akan menjadi yang pertama di Indonesia. Jadi kami harap bapak bersedia membantu kami. Dengan begitu kendala akan dapat diatasi bersama.”
Pengusaha B     : “Sebenarnya banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari proyek ini. Salah satunya yaitu akan membuat batik di Indonesia menjadi lebih diminati dan menjadikannya sebagai budaya yang akan selalu dijaga.”
Kepala Pemda   : “Apakah hanya masalah pajak yang menjadi kendala saat ini?”
Pengusaha C     : “Iya, Pak. Untuk saat ini memang itu yang menjadi kendala bagi kami. Oleh sebab itu, bantuan dari bapak sangat kami perlukan.”
Kepala Pemda   : “Baiklah. Usulan laboratorium batik ini memang merupakan ide yang sangat kreatif. Saya akan segera mengurusnya. Kira-kira dua hari lagi saya beri surat pemberitahuan. Serta untuk masalah pembangunannya, mungkin saya juga akan bisa membantu.”
Andani              : “Terimakasih, Pak. Bapak sangatlah berjasa akan proyek ini.”
Kepala Pemda   : “Anda tak perlu berterimakasih. Ini sudah merupakan kewajiban saya.”

Esoknya Andani mulai mengumpulkan dana dari para pengusaha lain dan mecari beberapa sponsor untuk memulai proyeknya. Seminggu kemudian dana telah terkumpul dan proyek sudah bisa dimulai.
Proyekpun berjalan lancar, dan benar saja kreasi batik baru mulai muncul di pasaran. Peminatnyapun makin banyak hingga mancanegara. Dan kaum muda sekarang tak malu lagi untuk bergaya dengan menggunakan warisan budaya Indonesia yaitu batik.

Teks Negosiasi-Negosiasi Tentang Anggaran Dana Koperasi-



Pengurus OSIS berinisiatif untuk mendirikan koperasi sekolah yang banyak memudahkan siswa dalam memperoleh peralatan sekolah dengan  harga yang terjangkau. Siang itu Rivi dan Rani sebagai pengurus OSIS menemui kepala sekolah untuk mengajukan usulan program tersebut.

Rivi dan Rani: “Selamat siang, Pak.”
Kepala sekolah: “Ya, selamat siang.”
Rani: “Maaf, Pak sebelumnya kami mengganggu kegiatan Bapak.”
Kepala sekolah: “Ya, tidak apa-apa, silakan duduk. Ada yang bisa saya bantu?”
Rivi : “Begini, Pak, kami mewakili dari pengurus OSIS akan mengajukan usulan program untuk mendirikan koperasi sekolah.”
Rani: “Kami mendirikan koperasi ini bertujuan agar siswa dapat memperoleh kebutuhan sekolah tanpa harus keluar dari lingkungan sekolah”
Kepala sekolah: “Hmmm. . . Boleh saya melihat proposal untuk pengajuan program ini?”
Rivi: “Oh iya, Pak, ini, silakan!”
Beberapa saat kemudian setelah Bapak Kepala Sekolah membaca proposal yang telah diberikan oleh pengurus OSIS, kepala sekolah belum menyetujui anggaran yang diajukan oleh pihak pengurus OSIS.
Rivi: “Bagaimana, Pak dengan proposal yang kami ajukan. Apakah Bapak setuju dengan rencana kami?”
Kepala sekolah: “Saya sependapat dengan rencana ini, namun anggaran yang diajukan untuk  mendirikan koperasi ini terlalu besar untuk sekolah.”
Rani: “Lalu bagaimana, Pak? Akankah rencana kami ini tidak akan di-acc?”
Kepala sekolah: “Mungkin dari pihak sekolah akan menyetujuinya, tapi dari anggaran yang diajukan, pihak sekolah hanya bisa memberikan dana separuh dari anggaran yang diajukan.Bagaimana menurut  kalian?”
Rivi : “Wah, Pak, jika hanya setengah masih sangat kurang.”
Rani : “Bagaimana kalau 90% dari anggaran yang kami ajukan?”
Kepala sekolah: “Maaf, Mbak, pihak sekolah masih belum bisa memberikannya. Bagaimana kalau 60% dari anggaran yang diajukan?”
Rivi: “Wah, Pak, itu masih jauh dari cukup Pak.”
Rani: “Tolonglah, Pak dinaikkan lagi. Kami berjanji akan menggunakan koperasi ini dengan baik.”
Kepala sekolah: “Begini saja, kami dari pihak sekolah akan memberikan 70% dari anggaran yang diajukan. Kami tidak dapat memberikan lebih, karena saat ini dana akan digunakan untuk perbaikan perpustakaan.”
Rivi: “Tapi, Pak anggaran sebesar itu belum bisa mencukupi target kami. Tidak memungkinkan jika kami mencari 30%-nya dari penggalangan dana kami.”
Kepala sekolah: “Bagaimana ya, Mbak, dana yang diajukan terlalu besar.”
Rani: “Tolonglah dinaikkan, bagaimana kalau 85%, Pak?”
Kepala sekolah : “Hmmm...
Rivi: “Bagaimana, Pak? Apakah disetujui 85%?”
Kepala sekolah: “Baiklah, saya akan mencoba berunding dulu dengan pihak yang lain.”
Rani: “Baiklah, Pak, kalau begitu kami juga akan merundingkan dengan pihak kami.”
Rivi: “Terima kasih, Pak atas kebesaran hati Bapak. Kami mohon bantuannya, Pak.”
Kepala sekolah: “Iya, Mbak, sama-sama.”
Rani: “Kami mohon pamit, Pak. Maaf, Pak, kami telah mengganggu waktu Bapak.”
Kepala sekolah: “Ya, Mbak tidak apa-apa.”
Rivi dan Rani: “Terima kasih, Pak, selamat siang.”
Kepala sekolah: “Selamat siang.”

Pada akhirnya kepala sekolah menyetujui anggaran dana yang diajukan oleh pihak pengurus OSIS. Rani dan Rivi sebagai pihak pengurus OSIS segera memberitahukan keputusan pihak sekolah kepada pengurus OSIS yang lain.

Oleh: Rani P./MIA 4.2/22
          Rivi Monica P./MIA 4.2/25

Pemindahan Lahan Pasar Jintung



Oleh : Digna Meintari N dan Nadhira Shafa G

Pemindahan Lahan Pasar Jintung

Di tengah hiruk pikuk kebisingan pasar, seorang bernama Karsa sedang berkeliling pasar untuk memantau keadaan pasar tersebut. Karsa adalah pengelola pasar di salah satu desa yang cukup luas di Kota Jakarta. Dia menemui salah seorang pedagang yang merupakan ketua paguyuban pedagang di pasar tersebut yang bernama Sarimin.
Karsa : “Selamat pagi.”
Sarimin : “Selamat pagi, Pak. Tidak biasanya pagi-pagi begini sudah ada di sini.”
Karsa : “Iya Pak, saya sedang memantau keadaan pasar, kebetulan ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada Bapak.”
Sarimin : “Kalau boleh tahu, hal penting apa yang ingin Anda sampaikan kepada saya, Pak?”
Karsa : “Bagaimana kalau kita membicarakannya di tempat yang lebih tertutup. Saya khawatir ada pedagang lain yang mendengar.”
Sarimin : “Apakah harus sekarang, Pak?”
Karsa : “Iya tentu, karena ini bukan hal yang bisa ditunda-tunda lagi.”
Sarimin : “Oh, baiklah kalau begitu.”
Akhirnya mereka memutuskan untuk membicarakan hal tersebut di Kantor Pengelola Pasar Jintung tempat Karsa bekerja.
Sarimin : “Jadi Pak, apa yang perlu saya ketahui?”
Karsa : “Begini Pak, Pasar Jintung akan segera dipindahkan di ujung selatan kawasan Desa Jintung. Oleh karena itu, saya meminta bantuan Bapak untuk menginformasikannnya kepada pedagang lain agar segera pindah maksimal lusa.”
Sarimin : “Apa?! Bagaimana mungkin kami dapat berpindah tempat dalam waktu sesingkat itu, Pak?”
Karsa : “Bukannya saya tidak memikirkan hal tersebut, tetapi itu sudah menjadi perintah dari pimpinan karena akan dibangun sebuah pabrik kecil di sana.”
Sarimin : “Kalau begitu saya tidak yakin kami para pedagang bisa serempak memindahkan barang-barang kami lusa besok. Memang tanah yang digunakan untuk Pasar Jintung itu milik pemerintah tapi bukan berarti kami para pedagang terima apabila diperlakukan seenaknya seperti ini. Jelas-jelas ini bukan hal yang bisa diaplikasikan seperti membalikan telapak tangan. Bisa saja saya dan pedagang lainnya mendemo kantor Bapak atas perihal ini.”
Mendengar suara Sarimin yang bernada tinggi pimpinan dari kantor tersebut datang menghampiri Karsa dan Sarimin.
Arifin : “Maaf menggangu, ada apa ini ribut-ribut?”
Karsa : “Begini Pak Arif, saya sedang menjelaskan mengenai rencana pemindahan Pasar Jintung kepada Bapak ini. Tetapi Beliau kurang setuju apabila kita hanya memberi tenggang waktu sampai lusa.”
Arifin : “Oh jadi itu permasalahnya. Anda dan pedagang lainnya tidak perlu khawatir karena dari pihak kami akan memberikan bantuan berupa truk pengangkut barang. Lagipula, tempatnya tidak begitu jauh dari Pasar Jintung sendiri.”
Sarimin : “Lalu, bagaimana harga sewanya nanti, Pak?”
Arifin : “Harga sewa dan luas lahan masing-masing pedagang akan sama seperti yang sebelumnya.”
Sarimin : “Oh kalau begitu saya setuju, begitu juga dengan pedagang lainnya pasti akan berpendapat sama dengan saya. Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu. Terima kasih, Pak.”
Karsa : “Terima kasih juga atas bantuannya dalam menyampaikan info ini, Pak.”
Setibanya di Pasar Jintung Sarimin segera bergegas memberitahukan hal tersebut kepada para pedagang lain yang tengah asik menjajakan barang dagangannya.