Senin, 16 Desember 2013

Teks Eksposisi Penerapan Kurikulum 2013 dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia ( Arga Cahya/ MIA4.1/ 07)



Penerapan Kurikulum 2013 dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Perjalanan kurikulum di Indonesia cukup panjang. Mulai tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, dan yang terbaru ialah Kurikulum 2013. Dengan kurikulum itu, harapannya tentu mutu dunia pendidikan Indonesia akan semakin membaik. Harapan itu tentu tidaklah berlebihan mengingat prestasi akademik kita masih cukup jauh dari beberapa negara tetangga. Secara umum jika diperhatikan secara saksama terjadinya perubahan kurikulum dapat disimpulkan karena perbedaan paradigma pembelajaran. Seperti halnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia, penerapan Kurikulum 2013 turut mengubah paradigma pembelajarannya. Kalau selama ini pembelajaran bahasa Indonesia lebih bersifat language use, pembelajaran bahasa Indonesia kini berubah menjadi language usage. Dengan kata lain, language use berarti pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih menekankan pengetahuan tentang bahasa atau kebahasaan. Sementara itu, language usage lebih menekankan keterampilan berbahasa. Pembelajaran bahasa Indonesia pada Kurikulum 2013 diterapkan melalui pendekatan scientific dengan harapan peserta didik dapat mengeksplorasi seluruh kemampuan dan pengetahuannya. Pendekatan scientific yang memuat 3 aspek yaitu, aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik.
Jika diperhatikan buku pegangan siswa, jenis-jenis teks cukup beragam. Teks-teks itu seperti teks eksposisi, teks laporan observasi, teks anekdot, dan masih banyak lagi. Dalam mempelajari tek-teks itu, siswa harus mampu mengetahui apa saja yang terkandung dalam teks tersebut. Bagi siswa sendiri, permasalahan itu akan menitikberatkan pada sejauh mana siswa itu mumpuni memahami sekaligus menghasilkan tulisan dari jenis-jenis teks tersebut.
Kekhawatiran itu muncul bukanlah tanpa alasan yang jelas. Kita coba lihat dan ingat kembali kondisi yang terjadi selama ini, khususnya dalam keterampilan menulis. Kebanyakan guru hanya bisa menuntut dan membebani siswanya. Budaya kita yang lebih banyak bertutur/lisan daripada menulis tampaknya turut memengaruhi sikap itu. Gaya pembelajaran guru yang tidak menarik dan justru mengarah pada kata membosankan. Hal itu karena ada anggapan bahwa materi pelajaran bahasa Indonesia yang terus dirulang-ulang dari tingkat SD sampai tingkat SMA sehingga membawa stigma bahwa guru bahasa Indonesia tidak perlu kreatif dan inovatif. Akibatnya, guru bahasa Indonesia hanya sekadar mengajar dan menjelaskan jenis-jenis teks lalu menugasi peserta didik untuk menghasilkan sebuah tulisan tanpa mengetahui konsep-konsep dasar dalam menulis. Padahal lebih baik lagi jika guru dapat menunjukkan salah satu hasil tulisannya saat mengajar sehingga dapat memotivasi siswanya untuk menulis.
Selain itu, ketidaksiapan guru bahasa Indonesia lebih dipengaruhi oleh persoalan teknis. Maksdunya, keterangan-keterangan yang berkaitan pemberlakuan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks belum jelas. Sebaiknya pemerintah harus lebih gencar lagi memberikan penjelasan tentang jenis-jenis teks yang dimaksud..
Oleh karena itu, pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harusnya mengeluarkan semacam aturan tambahan sebagai penjelasan penerapan pembelajaran bahasa Indonesia yang berbasis teks. Dengan begitu, para pengajar-pengajar bahasa Indonesia tidak merasa kebingungan saat mengajarkan teks-teks yang dimaksud, melainkan mereka lebih memiliki kesiapan diri baik secara fisik maupun psikis.
Arga Cahya P/ MIA 4.1/ 07

Eksposisi (Nadhira Shafa .G. /19)

Penerapan Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Kurikulum 2013 merupakan perubahan dari sistem pendidikan di Indonesia. Pada kurikulum ini, baru beberapa sekolah saja yang menggunakan kurikulum 2013 ini. Contohnya, SMAN 1 Salatiga yang telah menerapkan kurikulum 2013 dalam sistem pembelajarannya. Misalnya, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kurikulum 2013 membuat inovasi baru, kurikulum ini lebih mengarahkan siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Kurikulum 2013 mengarah pada 3 ranah yaitu, ranah kognitif, ranah afektif, ranah psikomotorik.
Pada kurikulum ini, materi pembelajaran digali lebih dalam. Contohnya, ada perbedaan materi antara kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya yakni, teks anekdot, nomina pendeskripsi, dan nomina penjenis. Dari materi tersebut, telah diketahui bahwa kurikulum 2013 memberikan siswa pengetahuan lebih dalam lagi.
Selain itu, siswa dituntut untuk aktif dan kreatif dalam mengikuti pembelajaran. Interaksi antara guru dan siswa diberlakukan untuk memenuhi standar penilaian berupa sikap dan keaktifan dalam belajar. Dalam kegiatan ini, siswa dan guru memiliki hubungan yang harmonis sehingga siswa benar-benar menganggap guru sebagai orang tua di sekolah. Siswa pun semakin aktif bertanya dan penuh keingin tahuan. Namun, terkadang ada siswa yang belum mampu menyampaikan pendapatnya karena suatu halangan tertentu seperti, pemalu atau jarang berbicara dan lebih senang mendengarkan. Pada situasi inilah, tugas guru untuk menggali potensi siswa tersebut agar mampu berinteraksi dengan baik dan mau menyampaikan pendapat yang sesuai dengan pemikirannya.
 Menurut saya, kurikulum 2013 ini cukup baik dalam sistem pembelajaran. Kurikulum 2013 ini mampu membuat siswa menyampaikan pendapatnya dan berani berbicara karena selain membuat siswa aktif, kreatif, dan inovatif. Kurikulum 2013 ini juga menuntut guru untuk berelasi dengan siswa dan mampu mengerti keadaan siswa untuk menggali potensi dan menciptakan prestasi siswa. Namun, guru juga harus memahami materi yang disampaikan agar dalam pembelajaran tidak ada kesalahpahaman materi.
Jadi, kurikulum 2013 ini dapat diterapkan lebih jauh dan dikembangkan lebih baik lagi. Agar pembelajaran dalam kurikulum 2013 ini lebih sempurna. Tentunya, kurikulum 2013 ini akan lebih baik dengan partisipasi guru dan siswa untuk mengembangkannya.

Eksposisi (Retyan Shinta P. / 24)

Kurikulum 2013

            Sekarang ini pemerintah telah mengeluarkan kurikulum baru yang disebut dengan kurikulum 2013. Kurikulum ini telah diterapkan pada beberapa sekolah di seluruh Indonesia. Seperti halnya SMA Negeri 1 Salatiga juga telah menerapkan kurikulum 2013.
            Sebenarnya perbedaan kurikulum 2013 dan kurikulum sebelumnya tidak jauh berbeda. Hanya saja pada kurikulum 2013 siswa dituntut lebih aktif pada saat program pembelajaran. Dan juga guru lebih dituntut untuk lebih inovatif dalam melakukan pembelajaran atau dengan kata lain tidak terlalu terpaku pada buku.
            Sebenarnya dengan kurikulum 2013 ini sangat berpengaruh dalam menciptakan peserta didik yang lebih produktif, kreatif, aktif, dan inivatif yang melalui berbaagai aspek seperti penguatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terintegrasi. Bahkan bentuk penilaian pada kurikulum 2013 tidak hanya terpaut pada hasil pembelajaran para siswa. Namun, dimulai dari proses hingga hasil pembelajaran para siswa. Dengan diadakannya kurikulum 2013 membuat siswa dan guru menjadi lebih dekat karena guru menjadi sangat komunikatif dan terbuka dengan siswa. Sehingga membuat para siswa dapat dengan mudah mengikuti pembelajaran tanpa adanya rasa canggung.
            Walaupun banyak manfaat dan pendukung dengan adanya kurikulum 2013 tidak sedikit yang tidak menyukai penerapan kurikulum 2013, contohnya para siswa. Mereka tidak menyukai kurikulum 2013 karena mereka menganggap bahwa kurikulum 2013 ini membingungkan dan lebih menyusahkan daripada kurikulum sebelumnya. Untuk mengatasi hal tersebut seharusnya para siswa perlu mendapat penjelasan lebih lanjut tentang kurikulum 2013.
            Pada dasarnya kurikulum 2013 lebih menarik dan menguntungkan daripada kurikulum sebelumnya, karena dapat membuat siswa menjadi lebih produktif pada saat melakukan proses pembelajaran. Namun, karena banyak pihak yang belum mengerti secara jelas mengenai penerapan Kurikulum 2013 ini, membuat pandangan acuh tak acuh mengenai pelaksanaannya. Walaupun demikian tidak sedikit penerapan kurikulum 2013 yang berhasil, contohnya pada pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Salatiga.


Teks Eksposisi

Aulia Rizki
MIA-4.1 / 09

SISTEM PEMBELAJARAN DALAM KURIKULUM 2013

Sistem pendidikan di Indonesia terus dibenahi, salah satunya adalah dengan mengganti kurikulum lama dengan kurikulum baru yang diharapkan dapat lebih baik. Beberapa kurikulum yang pernah diterapkan di Indonesia diantaranya KBK, dan KTSP 2006. Di tahun ini, Indonesia kembali menerapkan kurikulum baru, yaitu Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 saat ini masih gencar disosialisasikan di berbagai sekolah di Indonesia. Sekolah di Salatiga yang telah menerapkan kurikulum ini adalah SMA N 1 SALATIGA. Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan Kurikulum 2013 terdapat banyak perbedaan dengan kurikulum sebelumnya.
Contoh materi yang berbeda dengan kurikulum sebelumnya adalah teks anekdot, nomina penjenis dan nomina pendeskripsi. Pada kurikulum sebelumnya, materi ini tidak diajarkan. Menurut saya, Kurikulum 2013 lebih banyak belajar mengenai tata bahasa. Namun, penerapan kurikulum ini masih banyak menimbulkan spekulasi dari berbagai kalangan masyarakat.
Pembelajaran pada Kurikulum 2013 ini lebih diarahkan kepada ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Ranah afektif berbicara kepada kemampuan anak dalam memahami konsep – konsep ilmu setiap pelajaran. Sedangkan ranah psikomotorik berbicara tentang keterampilan yang peserta didik dapat setelah pembelajaran. Kenyataannya selama ini lebih mengarah pada ranah kognitif. Kurikulum 2013 berpengaruh dalam menciptakan peserta didik yang produktif, kreatif , inovatif melalui penguatan sikap, pengetahuan dan keterampilan yang terintegrasi. Bentuk penilaian inilah yang sering dimunculkan dalam Kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik. Guru sangat komunikatif, dan terbuka dengan siswa. Banyak siswa menyukai pelajaran dengan seperti ini, karena seperti tidak ada batas antara guru dengan muridnya. Rasa kekeluargaan antara siswa dan guru akan mudah muncul dengan diterapkannya pembelajaran seperti ini. 
Penerapan Kurikulum 2013 ini masih membingungkan menurut menurut sebagian siswa. Banyak yang belum paham mengenai kurikulum ini, terutama mengenai tiga ranah yang telah disebutkan diatas. Untuk itu, diperlukan penjelasan lebih lanjut.  Dengan memberi penjelasan seperti itu diharapkan tujuan diterapkannya Kurikulum 2013 dapat tercapai dengan maksimal. Tetapi, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA N 1 Salatiga, penerapan Kurikulum 2013 sudah terlaksanakan dengan baik. Guru dan juga siswa dituntut untuk aktif dalam pembelajaran. Guru begitu memperhatikan mengenai sikap dan perilaku siswa di dalam kelas bahkan mencatatnya untuk penilaian. Guru mengamati perubahan sikap dan perilaku siswa dari waktu ke waktu.
Pada dasarnya Kurikulum 2013 lebih menarik dari pada kurikulum sebelumnya. karena siswa lebih aktif, Namun, karena banyak pihak yang belum mengerti secara jelas mengenai penerapan Kurikulum 2013 ini, pandangan mereka acuh tak acuh mengenai pelaksanaannya. Tetapi, pandangan itu akan hilang jika melihat pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA N 1 Salatiga yang menurut saya sukses mengawali pelaksanaan Kurikulum 2013 dengan baik.

Minggu, 15 Desember 2013

Eksposisi Kurikulum 2013 Diky Renaldi MIA 4.1/14

Penerapan Kurikulum 2013
 
         Kurikulum 2013 mulai dilaksanakan pada tahun ajaran 2013/2014 di beberapa sekolah, termasuk SMA N 1 Salatiga yang di tunjuk oleh pemerintah sebagai piloting kurikulum baru ini. Pada tanggal 15 Juli 2013 silam, 6.329 sekolah dari jenjang SD hingga SMA telah diresmikan sebagai sekolah yang menggunakan sisem kurikulum 2013. Kurikulum 2013 berbeda dengan  kurikulum yang sebelumnya, karena penjurusan minat sejak mulai pendaftaran. Kebijakan tersebut bertujuan agar siswa lebih fokus mempelajari sesuai dengan minat dan bakatnya. Kurikulum 2013 mengarah ke 3 ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.

        Pada kurikulum ini, interaksi antara murid dengan guru sangat di butuhkan. Siswa di tuntut aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Siswa pun juga dinilai dari sikap dan budi pekertinya. Menurut Meutia Hatta, tahap yang paling utama untuk mengembangkan kurikulum 2013 adalah mempersiapkan kemampuan para guru. Kurikulum 2013 pun menuntut proses belajar mengajar berbasis IT(Informasi dan Teknologi).

        Para siswa dituntut agar lebih mandiri karena untuk memecahkan suatu masalah atau materi yang di berikan, guru tidak langsung memberikan jawaban atau mendikte, tetapi para siswa di tuntut untuk mengamati terlebih dahulu, mencari tahu, menalar, mencoba dan mengkomunikasi kan hasil belajar kepada guru dan teman sekelas. Diharapkan sistem belajar seperti itu dapat berpotensi menghasilkan generasi yang cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, dan berakhlak mulia. Dan kurikulum ini juga di harapkan dapat memajukan pendidikan Indonesia di tingkat dunia. Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-64 dari 127 negara di dunia. Sangat jauh di bandingkan dengan Belanda, negara yang telah menjajah Indonesia selama 350 tahun ini berada di peringkat 3 dunia.

        Menurut saya dan beberapa siswa yang sependapat dengan saya, kurikulum 2013 ini masih membingungkan. Masih banyak siswa dan mungkin guru yang belum paham dengan 3 ranah tersebut. Seharusnya, para siswa di berikan workshop tentang kurikulum 2013, tidak hanya tentang sistem SKS. Jika semua pihak sudah paham dan mengerti tentang kurikulum 2013, pasti proses belajar mengajar tidak membosankan. Terbukti di mata pelajaran Bahasa Indonesia, pelajarannya lumayan mengasikkan dan dapat menghilangkan stres setelah pelajaran MIPA(Matematika dan IPA).

        Jadi, kurikulum 2013 ini mengajak siswa lebih mandiri dengan pendekatan scientific. Kurikulum 2013 harus diperbaiki dan disempurnakan lagi, karena sebetulnya kurikulum ini menarik dan tidak membosankan jika guru yang mengajar juga tidak membosankan yang tentunya menerapkan prosedur yang baik dan tepat. Kurikulum 2013 harus bisa memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia dan bisa menyaingi negara-negara lain yang mutu pendidikannya jauh lebih baik.

PENERAPAN KURIKULUM 2013 PADA KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR BAHASA INDONESIA


Proses belajar mengajar merupakan proses pendidikan yang memberikan kesempatan pada para siswa untuk mengembangkan potensi dan kemampuan dalam bersikap, berpengetahuan, dan berketerampilan. Terlebih dalam berbahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional dan  berperan penting bagi kehidupan Bangsa Indonesia untuk berkomunikasi secara efektif, dan efisien sesuai dengan kaidah-kaidah berbahasa yang baik dan benar. Hal tersebut menarik perhatian pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidkan yang digunakan di Indonesia agar menjadi lebih baik. Dan saat ini, telah diberlakukan “Kurikulum 2013” yag diharapkan dapat memenuhi kriteria sistem pendidikan yang sesuai dengan tujuan tersebut.
Kurikulum 2013 sudah diterapkan di beberapa sekolah, salah satunya yaitu SMA NEGERI 1 SALATIGA. Sejak penerapan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, pelajaran ini banyak mengalami perkembangan baik dalam penyampaian materi, sistem pembelajaran, maupun aspek aspek penilaiannya. Pada kurikulum ini, siswa dituntut untuk aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar. Siswa diajak untuk mengamati, memberikan tanggapan serta diajak untuk memproduksi karya yang berbasis teks sesuai dengan materi pembelajaran. Guru pengajar hanya memberikan pengalaman belajar untuk melakukan berbagai kegiatan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi kompetensi pada Kurikulum 2013.
Segi proses dan cara penilaian pada Kurikulum 2013 juga diperhatikan, pada penilaian bahasa Indonesia kurikulum 2013 sudah menerapkan penilaian dari segi kognitif, afektif dan psikomotor. Penilaian kognitif, siswa dituntut untuk memahami suatu teks denagn menganalisis, dan menguraikannya. Nilai dapat diperoleh dari tugas-tugas siswa, hasil ulangan, atau mengukur sejauh mana siswa menguasai materi yang sudah diajarkan oleh guru pengajar.
Untuk penilaian psikomotor atau keterampilan melibatkan fisik, harus mencakup persiapan, proses, dan hasil dari peserta didik. Aspek yang dinilai yaitu dari kegiatan siswa melakukan pengamatan lapangan, namun dalam praktiknya siswa banyak yang belum memahami bagaimana proses dan apa yang harus diamati saat melakukan kegiatan tersebut. Ini dapat mempengaruhi daya kreatifitas yang dipunyai oleh siswa dalam memproduksi teks berdasarkan pengamatan. Karena itulah peserta didik diberikan bekal dalam bentuk kemampuan dalam membaca, menulis, dan berlatih keterampilan dalam mengolah kata secara baik dan benar, tentunya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Hal tersebut dapat diwujudkan lewat diskusi kelompok.
Penilaian afektif mencakup sikap dan emosional peserta didik saat mengikuti pelajaran. Nilai dalam ranah ini diambil dari keaktifan, respon, tanggung jawab pribadi maupun kelompok, kerapian, dan juga interaksi antar sesama. Dalam penilaian ini guru berperan penting untuk menciptakan kelas yang aktif, kreatif, dan kritis. Guru memacu para siswa untuk berpikir aktif, berpendapat, mengkritik, dan memecahkan masalah dengan berpikir secara logis.
Banyak aspek yang berubah pada pelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan Kurikulum 2013 ini. Hal ini bertujuan untuk menciptakan dan meningkatkan kualitas pendidikan umumnya dan  mata pelajaran Bahasa Indonesia pada khususnya. Juga untuk menciptakan generasi bangsa yang aktif, kompetitif, dan berakhlak mulia. Dan pentingnya pengetahuan khususnya dalam berbahasa diharapkan bisa mengembalikan rasa cinta tanah air. Semoga tujuan dan harapan kurikulum ini dapat terlaksana dan kualitas pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Rani Prihatiningsih
MIA-4.1
22

Devi Candra L / 10 / MIA 4.1

Kurikulum 2013
Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

                Untuk kesekian kalinya, kurikulum pembelajaran di Indonesia diganti kembali. Kini yang tadinya Indonesia menggunakan Kurikulum KTSP 2006 berubah menjadi kurikulum baru, yaitu Kurikulum 2013. Dengan adanya beberapa aspek yang diubah, pemerintah Indonesia mengharapkan murid-murid di Indonesia menjadi lebih kreatif daripada sebelumnya.
                Kurikulum 2013 sedikit berbeda dengan KTSP 2006. Hanya beberapa sekolah yang baru melaksanakan kurikulum ini. Didalam kurikulum ini, murid dituntut lebih kreatif dan lebih aktif. Seperti contoh dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Siswa dituntut untuk aktif bertanya sehingga, guru tidak terlalu banyak menerangkan materi. Siswa juga diberikan kesempatan sebesar-besarnya untuk mengemukakan pendapatnya kepada guru. Sehingga, hubungan yang terjalin diantara guru dan murid menjadi lebih baik. Dengan demikian, siswa menjadi nyaman dalam menjalani proses pembelajaran.
                Dalam kurikulum ini, selain murid dituntut untuk kreatif, gurupun juga dituntut demikian. Guru tidak harus selalu mendekte yang menyebabkan murid menjadi bosan. Guru dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi yang sedang diajarkan. Seperti, pembelajaran yang dilakukan diluar ruangan. Selain teori, murid juga memerlukan praktek. Contoh, untuk membuat cerpen murid tidak harus selalu ada didalam ruangan. Murid juga dapat membuat cerpen dengan mengamati keadaan lingkungan disekitarnya. Dengan demikian, murid menjadi bersemangat untuk mengikuti jam pelajaran.
                Pendekatan yang dilakukan guru seperti diatas dinamakan pendekatan santifik.Pendekatan saintifik adalah pendekatan guru kepada siswa dengan proses mengamati, menanya, menalar, mencoba dan membentuk jaringan atau mengomunikasikan hasil belajar. Dalam kurikulum sebelumnya, murid berperan pasif, kurikulum ini mengharapkan murid dapat  berperan aktif dalam pembelajaran. Sehingga, Kurikulum 2013 berpengaruh dalam menciptakan peserta didik yang produktif, kreatif , dan inovatif.
                Dengan kurikulum ini, guru dan murid dapat lebih nyaman dalam proses pembelajaran. Sehingga diharapakan Kurikulum ini diberlakukan untuk semua sekolah di Indonesia sehingga menciptakan penerus bangsa yang kreatif, inovatif, dan aktif.
               

Nama    : Devi Candra Lestari
Kelas     : MIA 4.1 /10