Jumat, 13 Desember 2013

Nurlita D.F/20 (eksposisi)



Kurikulum 2013 dan Pembelajaran Bahasa Indonesia



Seiring dengan penerapan Kurikulum 2013, pembelajaran yang diharapkan oleh pemerinah mengarah pada kemampuan anak dalam memahami konsep-konsep ilmu setiap pelajaran atau diindikasikan dengan bentuk pertanyaan, kemampuan anak dalam memberikan respons atau sikap terhadap materi yang ia pelajari atau diindikasikan dengan bentuk pertanyaan. Sejalan dengan itu, penerapan kurikulum 2013 diharapkan memberi kontribusi yang signifikan terhadap setiap mata pelajaran. Pada akhirnya, kurikulum 2013 dapat berpengaruh besar menciptakan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif.
Ada yang mendukung penerapan Kurikulum 2013 dan ada yang bernada tidak setuju, perlu dikaji ulang, dan lain-lain. Lalu bagaimana penerapan mata pelajaran Bahasa Indonesia?  Jika dikaitkan dengan pembelajaran bahasa Indonesia, yang kenyataaanya selama ini masih menyuguhkan teks-teks yang lepas dan bukan merupakan teks yang utuh. Dengan kata lain, teks-teks yang disajikan dalam buku pembelajaran hanya berupa potongan-potongan paragraf. Dalam penerapannya, potongan-potongan paragraf tersebut tentu tidak akan memuat keseluruhan informasi secara utuh.
Jika soal-soal yang diberikan masih seputar kebahasaan, tentunya tidaklah terlalu kita permasalahkan. Namun, bagaimana dengan pembelajaran Bahasa Indonesia yang berkaitan dengan kesastraan patutlah kita permasalahkan. Cakupan sastra itu memuat dua wilayah kajian. Pertama, sastra masuk dalam kajian kebahasaan. Kedua, sastra juga termasuk dalam kajian wilayah seni. Sastra masuk dalam kajian bahasa jelas memberi isyarat bahwa dalam menghasilkan karya sastra tersebut harus menggunakan bahasa sebagai media utamanya. Tanpa bahasa tentulah sastra tidak ada. Demikian pula, sastra termasuk dalam kajian seni karena selain sastra berkitan dengan bahasa tentulah sastra juga berkaitan dengan hasil imajinasi/pemikiran pengarangnya. Dalam sastra itu, ada nilai-nilai yang didapatkan. Nilai sastra tersebut salah satunya nilai estetika. Oleh karena itu, setelah kita membaca salah satu karya sastra ada rasa puas atau bahkan menyenangkan. Selama ini masih tersaji bentuk-bentuk cuplikan sastra padahal keutuhan isi cerita tersebut belum memadai sehingga jawaban bisa berbeda beda pada tiap guru.
Pada kurikulum 2013 ini diharapkan dengan bentuk soal-soal yang berbasis teks akan membawa perubahan dalam setiap materi pelajaran umumnya dan khususnya materi Bahasa Indonesia sehingga siswa Indonesia semakin cerdas, kreatif, dan inovatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar